nama saja tak punya, apalagi blog
keberadaannya di jakarta ini berawal dari bau busuk. sewaktu meninggalkan kampungnya pasar turi surabaya usianya sekitar sebelas atau tiga belas tahun.
baginya itu tak penting. bukankah umur hanyalah hitungan manusia yang tak harus diperhatikan?
dengan menumpang truk yang mengangkut sapi, ia duduk, nyempil di antara himpitan dua tubuh besar, para pedagang yang bersedia memberi tumpangan.
tak ada pelukan atau lambaian perpisahan. tak ada juga kerabat yang mengantar kepergiannya. apalagi upacara ritual doa selamatan. tekadnya sudah dibulatkan, pergi untuk melupakan.
saat itu tahun 1966.
siapa pun yang datang ke bundaran hotel indonesia, tentu akan menjumpai perempuan itu, ibu-ibu berperawakan pendek agak gendut bercelana balon warna khaki.
dialah pengunjung bunderan hotel indonesia yang selalu datang mengabaikan hari. seminggu, tujuh malam dia akan selalu menemani orang-orang yang nongkong di pinggiran plasa indonesia itu.
ketidakdatangannya akan mengacaukan equilibrium bhi. tanpa perempuan itu, kopdaran bhi tiap jumat malam itu ibarat naik halilintar* yang listriknya tiba-tiba mati.
kepadanya jangan pernah menanyakan apa nama blognya, nama diri saja dia mengaku tak punya.
malam itu saya datang lebih awal. begitu ia melihat kelebat saya dia langsung bersalaman. genggamannya sangat kuat. mengingatkan pada lyndall diane meehan, orang yang kukenal sangat sebentar.
ia langsung menyeduh minuman yang biasa aku pesan : energen putih. sambil mengaduk minuman di gelas aqua plastik itu ia menjawab, "nama apa, saya tiap malam di sini”. ia berusaha mengalihkan pembicaraan. pertanyaan saya mengusik kenangan masa silamnya. rupanya ia masih trauma.
jumat malam adalah waktu paling keramat buatnya. ia harus semalaman menunggui para blogger yang kopdaran sampai bubar. andai sampi subuh pun.
rumah sewanya di belakang grand indonesia. rumah petak sempit yang berdampingan dengan para pemadat dan penyimeng. di gang rumahnya yang ia sewa 300 ribu sebulan itu ia sering mendapati laki-laki teler yang menghalangi jalannya.
kadang-kadang ia jengkel. kebiasaan buruk mereka itu mengancam anak laki-laki satu-satunya. “kalau mau aku bisa laporin ke polisi. tak tega juga, karena mereka itu tak pernah mengganggunya.
ia mengalah. terpaksa menyelamatkan anaknya ke riau. bekerja dengan pamannya di sebuah pabrik.
perpisahan itu menyisakan sewa rumah yang belum dibayar. namun ia beruntung punya simpanan. bukan di bank tentu saja. namun di dalam botol bekas minuman. tiap hari ia kumpulkan kepingan uang 500an.
dini hari itu, dari bunderan hotel indonesia, ia akan langsung ke pasar. belanja bahan-bahan gorengan untuk di jual siang. kira-kira jam enam pagi ia baru bisa merebahkan tubuhnya. sebentar saja, karena ia harus mempersiapkan dagangannya yang harus habis sampai jam 4.
selanjutnya ia akan ke bundaran hotel indonesia sampai dini hari lagi. besoknya lagi, lagi dan lagi.
sehingga ia sangat memahami suasana malam di pinggir kolam depan plasa indonesia yang lampunya akan mati tepat tengah malam. ia paham mana perempuan baik-baik, dan mana germo yang sedang merayu calon pelanggan.
puisi-puisinya sangat kontemplatif dan "alus". jangan bayangkan penyair kita ini berpenampilan kumal, rambut acak-acakan, kurus dengan warna bibir menghitam karena tumpukan nikotin ketika menangkap ide-ide yang lewat berseliweran.
siapa yang tak kenal sosok blogger ini, pasti kurang gaul. keselebannya melegenda, setidaknya pada setiap ingatan para blogger yang pernah kopdaran atau berbincang dengannya.
malam itu di ohlala kafe pukul 21.00. mengenakan celana 15 cm diatas lutut warna hijau tisu. kaos ketat bergaris berpotongan rendah sewarna. 