hidup yang singkat, mari kita rayakan

bukber ke-3

hari sabtu libur. sorenya aku harus pergi untuk urusan ke ciputat. aku menelepon teman yang menjadi tukang ojek di pertigaan pasar ciputat yang macetnya melegenda itu.

sinar matahari masih panas. jalanan di seputaran pasar yang sedang mengalami pelebaran dan pembangunan fly over itu sungguh suasananya sungguh filmis.

di kanan kiri jalan, berderet tukang ojek. berdampingan dengan angkutan yang mengular antri. di depan pertokoan, lubang galian menganga. setiap toko memberikan akses jalan untuk masuk tokonya dengan menutup galian itu dengan papan kayu.

kabel-kabel yang berada di dalam pralon bertebaran. para buruh bangunan berseliweran dengan berlumuran lumpur. dan suara memekakkan telinga dari alat berat yang membuat galian untuk pancang tiang jembatan layang.
 
di keliling alat berat itu mengepung seng yang telah dicat warna kuning hitam. aku berjalan melipir di sebelah seng. cemas, andai ada satu kesalahan salah satu besi yang lepas misalnya apa jadinya orang-orang yang menyemut menyeberang jalan.

whuahhh... aku harus menyibak debu-debu yang bertebaran, berbaur dengan bau pasar yang sengak dan kutemukan juga teman tukang ojeg yang mangkal di depan masjid itu.

kami berdua ke sebuah alamat. cepat, ia sudah hapal nama jalan, gang dan sebutan untuk daerah-daerah sekitarnya. lalu kami minggir, berbuka puasa di sebuah warung gudeg.

ternyata dia tak mau makan kolak, es buah atau makan nasi. ia lebih memilih hanya minum air putih. perutnya menolak kalau harus langsung diisi makanan berat. ia hanya bercerita keshariannya, lengkap!

baiklah, aku menghabiskan kolak, es buah sendiri.