
menurut riset baru-baru ini, satu dari empat kita-kita ini yang tinggal di jakarta mengalami ganguan jiwa. baik dari skala ringan maupun sampai yang benar-benar gila. sebagai dosen psikologi, mbak dos menyatakan tak heran dengan hasil temuan itu.
menurutnya, memang banyak hal di kota yang bisa memicu munculnya gejala gangguan mental. misalya stress. terutama para pendatang newbie yang berasal dari daerah.
klise memang, namun faktanya sampai sekarang masih seperti itu. dan kelak kemungkinan akan terus berlangsung. mereka datang ke jakarta dengan harapan setinggi puncak himalaya. namun apa lacur, mimpi itu runtuh berkeping-keping membentur tembok terminal pulogadung yang bertuliskan selamat datang di ibu kota.
tak hanya masalah uang di kalangan bawah, masalah “sederhana” pun bisa memicu munculnya gangguan kejiwaan. seperti yang dia alami kemarin. pagi itu perempuan kelahiran jakarta ini melakukan perjalanan ke depok dari rumahnya di pondok bambu.
biasanya waktu tempuhnya cukup satu jam, namun pagi itu ia harus merelakan di atas mobilnya selama 1,5 jam. hasil akhirnya tentu bisa di tebak ia telat masuk kampus. begitu juga waktu pulang, macetnya lebih lama.
pemicu stress seperti itulah yang membuat kita cepat “gila”, katanya. namun tak perlu risau dulu. kita-kita, pembaca blog ini masih cukup waras, normal. karena menurutnya, kita masih bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan.
namun sebagai blogger harus ekstra hati-hati. andai kalian menulis cerita fiksi begitu seriusnya, menghayati karakter tokohnya sampai-sampai terbawa ke perilaku keseharian, bisa-bisa kalian masuk rumah sakit grogol.
ada sejarah menarik mengenai namanya yang ke india-indiaan. shrivastava itu sebenarnya nama marga. mirip simangunsong, simorangkir, hutabarat dan lainnya. padahal dia asli jawa. namun tak ada yang percaya.
teman-teman memaksanya untuk mengakui bahwa dirinya keturunan india. ia menyerah. dan sejak itu perempuan yang tak menyukai keramaian itu identik dengan india. sampai sekarang.
mungkin kalian tak akan menyangka mbak dos ini dulunya tomboy. sampai smu, penampilannya macho. rambut pendek bercat hijau, baju gombrong, nongkrong sama teman-teman laki-laki di warteg.
sampai suatu waktu datanglah si pahlawannya. menurutnya pahlawan itu adalah semua orang yang pernah deket sama saya, they’re the hero in their own way. “yang jelas bukan tetangga, karena tetangga hanya dekat secara fisik, tambahnya.
mereka adalah orang-orang yang berperan menjadikannya seperti sekarang ini. termasuk penampilan dan sikapnya yang “sangat perempuan”. “sejak pacaran sama seorang pria, itu semua berubah, tegasnya.
itu pacar yang keberapa? dia menjawab tenang, yang ketiga. seperti pacar-pacar sebelumnya, mereka itu galak. justru kegalakannya itulah yang membuatnya merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
mengajar adalah hal paling “gila” ia lakukan. sampai sekarang. “dulu, beuh.. boro-boro ngajar, suruh maju depan kelas aja paling ogah. kalo bisa ngumpet di belakang teman-teman kalau pas presentasi” katanya menutup perbincangan.



duhhh mbakdos
Comment by iway — November 11, 2008 @ 3:48 pm
eh ada mbak dos…
harusnya dipasang foto mbakdos waktu rambutnya masih hijau…
Comment by cK — November 11, 2008 @ 3:58 pm
Ahhh, mbak dosss… aku padamu… halahhh (lol)
Tapi aku memang mengagumi dirimu kok… kamu, errr… ahhh, sudahlah… pokoknya aku padamu jeung… ditampol
Comment by silly — November 11, 2008 @ 3:59 pm
Subhannallah..
Comment by Gage Shrivastava — November 11, 2008 @ 3:59 pm
mbak doss.., tulisannya keren juga loh.. lama tidak berkunjung, rumahnya di pondok bambu toh.. ???
Comment by parta — November 11, 2008 @ 4:06 pm
ngg.. nanti mas Kawe kutraktir sepuasnya di warteg punyaku deh..
mau apa?
daun singkong, oseng tempe, bakwan goreng, ikan pindang, atau sambel goreng tahu?
Comment by penunggu warteg — November 11, 2008 @ 4:08 pm
Kalau dosen saya dikampus dulu kayak Mbakdos ini, mungkin kuliyah saya dulu “bener” Mwakakakak! dikeplak Mbakdos
Comment by -=«GoenRock®»=- — November 11, 2008 @ 4:14 pm
ngelap iler
mbak dos sekseh sekali..
bener mbak, jakarta bikin stres
tapi mbak betah yah tinggal di jakarta..
Comment by nonadita — November 11, 2008 @ 4:16 pm
wah mbakdos tetep exis trs dah.. (rock)
Comment by dodywae — November 11, 2008 @ 4:56 pm
hmmmm…. tulisannya bagus, teknik penuturannya keren
Comment by a2i3s — November 11, 2008 @ 4:57 pm
mbakdos mbledos
Comment by Mbilung — November 11, 2008 @ 6:23 pm
:)fotone apik
Comment by nothing — November 11, 2008 @ 7:17 pm
woh!!
semaput
Comment by Nazieb — November 11, 2008 @ 9:46 pm
mbak dos, kok belum pernah ketemu sih kita?
Comment by hanny — November 11, 2008 @ 10:12 pm
ngajar apa bu dosen ???
eh mbak dosen ??
plis, angan psikometri, metodologi penelitian, dan statistik >_
Comment by memeth meong — November 12, 2008 @ 2:45 am
lho, komenku termutilasi ??
_salaman dulu sama jeng dos
keknya ambil magister profesi juga ya. dimana ?? UI kah ?? klinis ato IO ??
Comment by memeth meong — November 12, 2008 @ 2:47 am
aduuhhh potone…*ngiler*
Comment by gus pitik — November 12, 2008 @ 9:55 am
iyha potonya sekseh
Met kenal yha mbak
/*jabat tangan ama Mbak Dos
Comment by pinkina — November 12, 2008 @ 5:46 pm
@memeth meong:
hahaha.. tebakanmu bener! saya sempat ngajar penyusunan skala psikologis dan psikometri, kalo semester ini megangnya statistik dan konstruksi tes
sekarang sembari kuliah di UI jeng, ambil klinis dewasa..
salaman juga sama jeng resleting
Comment by mbakDos — November 12, 2008 @ 9:32 pm
Hi mbak glek
Comment by mikow — November 12, 2008 @ 10:26 pm
bu dosen cantik sekali
Comment by kenny — November 13, 2008 @ 1:12 pm
Asem ki, Mbak Dos kok cantik ya…
Comment by aldie — November 14, 2008 @ 2:30 am
ebuseeeeeeeettt… PSP, kontes ???
duh, makul tipe2 itu…masuk telinga kiri keluar telinga kanan… T_T
ah, tp siapa tau, dg dosen spt anda ini, jd semangat belajar.
eh jgn mau lho ya, diajak kopdar sama penulis buku teks PSP, psikometri, yg dosen UGM itu
Comment by memeth meong — November 16, 2008 @ 1:41 am