
ngeblog itu ibarat terserang virus influenza. kalau tak kuat, bisa sangat menyakitkan. begitu metafora yang disampaikan latree manohara. dia kini merasa lepas dari masa inkubasi, yakni ketika derita terparah sedang melingkupinya. badan memanas dan ngilu.
beberapa waktu lalu, ia ngeblog seperti orang gila. sehari bisa posting 31 kali di sebuah blog. utamanya di whatever. di blog ini ia menuangkan lintasan-lintasan ide yang berseliweran di kepalanya.
postingan-postingan yang singkat itu mengingatkanku pada sajak-sajak sitor situmorang yang hanya sebaris: malam lebaran. rupanya ia membebaskan pembacanya untuk menafsirkan apa yang ditulisnya.
kebanyakan pembacanya tak memahami apa yang di sampaikan latree. para pengunjung tersebut jarang yang kembali lagi. bahkan pada salah satu postingan ia memperoleh komentar yang menyatakan bahwa blognya bodoh.
namun ia tak berang. ia telah siap untuk tak menjadi selebritas blog dengan banyak komentar. ia telah memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri. sehingga banyak orang yang yang menganggap dirinya unik.
dua blog lainnya yang sering di update adalah dandelion yang memakai dua bahasa dan random thoughts of la. .
sekarang ia cukup berhasil mengatur kapan waktu yang tepat untuk menulis, bekerja dan mengurus keluarga. sebelumnya ia menjalani terapi, latihan setiap hari agar bisa membuat postingan hanya sekali dalam sehari.
menurutnya, membuat postingan itu sangat gampang dan tak memerlukan waktu banyak. ia memahami, tak bisa hanya membuat postingan, membiarkan dan berharap dibaca orang lain. baginya blogwalking adalah bagian dari blogging. sayang untuk blogwalking ia hanya punya waktu yang sempit.
perempuan pns di bappeda, badan perencanaan pembangunan daerah propinsi jawa tengah ini menolak blogwalking asal-asalan. misalnya membaca postingan secara skimming hanya agar blognya menuai banyak komentar balik.
“aku lebih suka sedikit blogwalking. dengan membaca seluruh postingan, aku mencoba memahami ide yang di sampaikan oleh penulis, katanya. meski diam-diam ia juga merasa bahagia andai memperoleh komentar banyak.
alasan lainnya, ia punya pekerjaan, suami dan anak yang memerlukan lebih banyak perhatian. ia ingin menjadi yang terbaik dalam tiga-tiganya. namun ia merasa masih jauh dari berhasil.
perempuan pemetik gitar ini mengaku masih suka membuat jengkel suami. padahal, masih menurutnya, suaminya itu super baik, sabar dab sangat memahami keinginannya. misalnya sejak "jadian" di masa kuliah dulu, ia tak lagi pernah memboncengkan perempuan lain selain dirinya.
ibu yang sedang menyelesaikan novel pertamanya ini merasa tak “secure” bergaul dengan sesama perempuan. ia memahami kelemahan yang dipunyai oleh kaumnya, yakni mulutnya yang suka bergosip.
memang tak semua perempuan seperti itu. namun ia pernah mengalami hal buruk yang membuatnya trauma sampai sekarang. karena itu ia lebih memilih tak punya teman akrab perempuan. juga teman virtual di internet. namun menurutnya, ia bisa merasakan mana yang tulus menerima dan mana yang sambil lalu.
aku termasuk yang mana, entah. dari beberapa perbincangan, akhirnya aku tahu, ternyata bapaknya adalah guru lukisku dulu.


