tak semua pekerja migran di luar negeri mengusung cerita mengenaskan. jumat malam (di bhi tentu saja) aku bertemu dengan salah satu pekerja migran yang bertolak belakang dengan yang sering kita dengar di tv.
perempuan ini berangkat ke hongkong pertama kali tahun 2002. selama enam tahun bekerja di negeri orang, ia menyimpan banyak cerita suka. sampai tanggal 11 sepetember ini dia libur, pulang ke indonesia.
ia menyempatkanke kawung nganten, cilacap, jawa tengah, tanah kelahirannya. namun lebih dulu mampir jalan-jalan di jakarta. salah satu agenda utamanya ke bhi (bunderan hotel indonesia).
sudah cukup lama fitri, nama perempuan ini mengenal komunitas bhi. melalui blognya berbahasa banyumasan, tampak unik dan lucu. melengkapi blog-blog berbahasa sama yang sudah ada: rogebon dan gambarpacul.
makanya, jauh-jauh dari hongkong ia membawa oleh-oleh khusus untuk para bhi-er: kue bulan. konon masyarakat cina menyantap dan membagikan kue ini sebagai tanda syukur terhadap rejeki yang mereka terima sepanjang tahun ini. aku menduga fitri pun bertujuan sama.
dengan berdiri diantara kerumunan banyak blogger yang datang dari kalimantan selatan, palembang, cirebon berceritalah ia mengenai kehidupan para pekerja migran di hongkong. menurutnya jumlah pekerja migran di hongkong lebih dari sepulu ribu orang. mayoritas banget ( 98%) perempuan.
para buruh migran itu pergi ke luar negeri bukan saja karena alasan ekonomi. menjadi pekerja migran adalah pelarian, setelah dikecewakan oleh pacar atau suami. mereka berharap bisa melupakan kesedihan sekaligus mencari harapan baru.
bukan nasib baik, jika ia sekarang merasa nyaman bekerja di hongkong. ia menilai kebanyakan mereka yang mendapat perlakuan buruk bosnya, itu dikarenakan ulah pekerja itu sendiri. andai tak macam-macam, semua akan baik-baik saja.
"para pekerja di hongkong, sangat dilindungi hukum. kita bisa melaporkan ke polisi andai diperlakukan semena-mena. sekecil apapun, terangnya. perempuan yang kini fasih berbahasa inggris dan canton ini juga menerangkan kemudahan yang diperoleh dari pemerintah setempat.
misalnya ketika ia kehabisan uang, ia bisa meminjam ke bank yang syaratnya sederhana dan tidak ribet. "very easy", katanya. hebatnya, prosesnya hanya sehari. jadi tak perlu ada "survey" seperti bank di indonesia. bunganya pun sangat rendah.
namun ia tak lantas memanfaatkan kemudahan itu. saat ini ia bisa mengendalikan diri, memanaj gaji bulanannya dengan baik-baik. ia mengaku, pengeluaran terbesarnya adalah untuk membeli pulsa.
minggu merupakan hari pertemuan pekerja migran sehongkong. setelah 5 hari bekerja mereka melepas penat dengan bermacam kegiatan. salah satunya adalah komunitas forum lingkar pena yang bergerak di bidang kepenulisan.
merasa nyaman di hongkong, akankah ia akan mengikuti jejak batara kesuma yang dari medan, founder and chief technology officer salah satu jejaring sosial yang memilih pindah kewarganegaraan dan mengganti namanya menjadi batara eto?
sangat tidak. ia berencana menghentikan petualangannya di negeri orang itu dua tahun lagi. ia ingin mengurus orang tua dan suami. perbincangan berakhir karena lampu-lampu di bundaran hi telah padam.


