andai bisa, ingin kubelokkan garis-garis tangan yang melintang di telapak tangan kiriku. sehingga aku bisa dengan mudah mencipta takdirku. sayang sampai sekarang aku belum nemu cara itu.

ide ini muncul pada suatu malam di sebuah kereta makan kelas bisnis pada perjalanan ke jogja, jumat  8 agustus 2008 jam 8.

perawakannya semampai, kacamata nampang di atas hidungnya yang cukup panjang. ada jam tangan stylis di lengan kanannya. malam itu aku dan dia sama-sama terpaksa membeli tiket yang jelas-jelas tanpa nomor kursi.

seperti sudah diskenariokan, kami lalu berjalan menuju ke ruang restauran di ujung gerbong paling belakang. sebenarnya aku hanya ingin membuktikan bisik-bisik yang pernah aku dengar. banyak crew yang menukar kursinya dengan harga murah.

dan tepat, dengan menambah 30.000 seorang petugas memberiku kursi, plus makan dan minum gratis. selembar tikar-tikaran yang kubeli aku berikan kepada penumpang lain yang tak seberuntung aku.

laki-laki itu mendadak telah duduk di hadapanku. mengenakan t-shirt warna merah darah dengan id card melingkari lehernya. dari simbolnya, terbaca, nama sebuah bank multinasional.

perkenalan itu terjadi sangat cepat.  tanpa jabat tangan dan saling menyebutkan nama. pembicaraan memanjang dari seputar pekerjaan, handpone sampai blog.

ia mengaku telah bertemu banyak orang yang menanyakan blognya. karena seringnya, ia berjanji untuk segera membuat blog. niat itu sebenarnya sudah lama ada, hanya saja, pekerjaan saja yang memaksanya untuk terus menunda.

gaya bicaranya lugas, intonasinya tak beretorika. kami berbincang mirip dengan teman akrab. tak ragu, ia memegang telapak tangan kiriku dan menatapnya. dan mulailah dia menelanjangiku.

"kau bermimpi terlalu tinggi, katanya.

"apa salahnya? bukankah itu lebih bagus?"

"maksudku begini. kau tidak akan mampu mengubah seluruh keadaan. andai kau sekarang sudah mengalami pencapaian yang seperti ini, itu artinya kau sudah cukup berhasil. terlalu berat jika ingin mengubah semua hal. itu bukan tanggungjawabmu sendiri.

ok aku paham.

"dan kau kurang fokus. artinya kau masih ragu, mana prioritas yang akan kau capai. mestinya ambil saja dua-dua nya sekaligus. nanti baru ketahuan kau akan lebih sukses dimana. kalau cara biasa tidak bisa, pakailah cara ekstrim".

semua tentangku, dia tahu. ia lalu menyebutkan sifat-sifatku yang begini, begitu. ketika aku berbohong jumlah usiaku, dia malah bisa menebak jitu.

sampai bagaimana aku memperlakukan pekerjaan dia tahu. "mengubah kebiasaan itu cukup gampang, hanya diperlukan waktu maksimal 90 hari. aku sudah membuktikan."

lalu mengalirlah cerita masa bocah yang heroik. sebagai anak laki-laki satu-satunya, ia sangat di manja. sampai kelas 2 smu ia tak boleh keluar malam. keadaan ini menjadikannya ia gagap bicara di depan banyak orang.

sampai pada suatu malam yang mengubah segalanya. ia pamit keluar untuk belajar. ayahnya yang jaksa menginterogasinya sampai tak ada celah untuk mengelak. kebohongannya ketahuan. sejak itu ayahnya tak mempercayainya lagi.

ia dibebaskan dan tak dipedulikan. seperti remaja lain, ia tergabung dengan teman-teman yang akrab dengan minuman keras dan narkoba. pulang malam  dan bolos sekolah. nilainya ancur-ancuran.

di sekolah pun, ia tak merasa aman. karena kegagapannya itu ia menjadi bahan olok-olokan.  ia ingat, setiap mendapat giliran membaca, ia selalu diam. namun ia menutupi kekurangan itu dengan bercanda. tahu gagap, teman-temannya menjadikannya ketua kelas.

suatu siang seluruh ketua kelas dipanggil. di depan kelas, dia harus mengabarkan pesan dari kepala sekolah. ia diam. tak sekecap kata pun keluar dari mulutnya. yang terdengar malah isakan. meledaklah tawa dan ejekan dari seluruh ruangan.

malu, ia pindah sekolah dengan jurusan yang berbeda. saat itulah ia mengalami titik balik. ia ingin membuktikan, ia bisa seperti teman lainnya. maka ia belajar habis-habisan. bahkan di toiletpun ia tetap membaca. hasilnya ia menjadi juara dua.

melihat perubahan itu, baru ayahnya mau menyapanya. menatap wajah dan memegang kedua pundaknya. "memang begitulah seharusnya laki-laki".

perbincangan itu berakhir sampai jam 3 pagi.  ketika kereta sampai di stasiun tugu, aku melangkah turun. tampak ia masih nyenyak tertidur.