menjadi golongan putih, apakah masih merupakan pilihan menarik untuk tahun 2009? di beberapa daerah, jatim misalnya orang-orang yang bersikap netral (tak memilih) lebih banyak dibanding yang mendukung pemilihan gubernur.
orang-orang sudah sampai pada tahap apatis. nyaris tak mempedulikan lagi siapa yang akan menjadi presidennya kelak. karena memang, siapapun presidennya, rakyatnya pasti tetap kelimpungan menghadapi masalah-masalah primer. beras, minyak, sekolah yang mahal.
dan muka muka lama pun masih tetap berseliweran berkampanye. wajah-wajah yang sudah sangat di hapal masyarakat itu bertaburan di tv di spanduk dan koran. megawati, wiranto, sby, sutiyoso dan lainnya. mereka sebenernya sudah paham, masyarakat sudah ingin sekali mengganti foto yang dipasang di dinding ruang tengahnya.
maka diguyurkanlah rayuan-rayuan, janji-janji dan angin surga. sayang semuanya sudah sampai terdengar klise karena dia yang berjanji dia pula yang mengingkari. masyarakat ternyata lebih cerdas daripada yang mereka perkirakan.
mendengar sesuatu yang klise itu sebagian besar masyarakat jengah.
momen ini lalu dimanfaatkan mereka yang mengerti apa yang masyarakat mau. rizal malarangeng dan sutrisno bachir misalnya. isu yang mempersoalkan usia tua muda mencuat. selain tentu saja isu perubahan.
ada suasana segar, ada wajah-wajah cool diantara wajah-wajah keriput. ibu-ibu muda senang dengan kehadiran mereka. juga anak-anak muda karena mereka bisa langsung berinteraksi melalui facebook atau blog. namun kelompok ini masih kecil jumlahnya.
bagi mereka yang masih menjadikan televisi sebagai media informasi utamanya, mereka akan bertanya-tanya? sia dia, kok tiba-tiba nongol. akankah dia benar-benar mengusung aspirasi rakyat, atau seorang oportunis kesiangan?
belum teruji. waktu yang akan membuktikan.


