
baiklah, akan aku ceritakan pengalaman membaca novel keren terbaru ayu utami, bilangan fu. sampai pada lembar terakhir aku merasa tak mendapatkan "imbalan" seperti pada novel kebanyakan. malahan ia menyisakan pertanyaan yang menteror.
aku sadar betul, ayu utami bukanlah penulis yang sebatas ingin memberikan penghiburan dan kepuasan kepada pembacanya. namun ia menawarkan suatu pemikiran baru mengenai spiritualisme.
masih sering kita melihat praktek-praktek upacara pemujaan dan persembahan (sesajen) kepada batu atau pohon di daerah-daerah yang masih memelihara takhayul. sebagian besar orang menganggapnya kuno, kampungan dan tak intelek. ada yang menilai sebagai bentuk perbuatan terkutuk yang menduakan Tuhan.
ayu utami memahaminya lain. melalui novelnya ia ingin mengatakan, agama-agama langit telah gagal menyelamatkan alam. agama bumilah yang secara sistematis memelihara alam. sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru: modernisme dan monoteisme.
dengan setting watugunung (pegunungan kapur) dengan para pemanjat tebingnya, ayu sangat piawai meramu dan mengolah perbenturan dua keyakinan melalui kedua tokohnya: parang jati dan kupu-kupu. plot yang agak lambat namun padat, pembaca diajak memahami perbedaan antara agama-agama barat dengan timur (hindu budha, konghucu, tao, shinto dan agama lokal. (semacam pangestu, parmalim, kaharingan?).
rupanya perbedaan itu terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing agama. agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. nol. harmoni yang menghargai kontras (yin yang). dimana dalam yang satu selalu ada yang lain.
sebaliknya monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah satu. monoteisme memandang orang lain tampak seperti hidup dalam kegelapan dan penderitaan sehingga membutuhkan terang mereka. mereka melihat orang lain tampak seperti iblis sehingga boleh diperangi.
bagi mereka yang memilih agama langit daripada agama bumi, ia menawarkan bentuk keyakinan baru, spiritualisme kritis. kritis terhadap kebenaran yang dibawakan setiap agama. intinya jangan pernah mau menjadi budak kitab suci manapun.
kebenaran biarlah berada di langit. kelak kita akan mengetahui misteri itu. namun saat ini bumi membutuhkan kebaikan kita. maka sebaiknya kita berbuat baik kepada bumi, karena langit tak butuh belas kasih kita.
pada novel ini, ayu sangat bersemangat mengenalkan vocab yang jarang dipakai orang sejak dari bab pertama. bahkan beberapa tak kutemukan di tesaurus : dekis, retis. darimana ia mencipta kata-kata itu? lainnya yang kuingat: mendebik, miang, berjerangut, lihap, cedok, menyintas, membeting, wadat, menyalut, terpelecok, mengempal, orak, mengajuk, bergoler-goler dan dubuk.
ada roman (yang bukan picisan) asmara ketiga tokohnya, kita akan menemukan arti cinta yang aneh. yuda mencintai marja (cewek) dan parang jati. marja mencintai yuda dan parang jati. parang jati mencintai yuda dan marja. tak ada rasa cemburu, karena mereka tak ingin saling menguasai.
indah?
data buku:
judul : bilangan fu
penulis : ayu utami
penerbit : kpg (kepustakaan populer gramedia0
jumlah halaman : 537 (13,5×20 cm)



saya suka gaya penulisan ayu utami, walaupun dalam banyak hal saya tak mampu memahami idenya, atau bahkan berseberangan dengannya. tapi toh tak ada salahnya mengapresiasi dan mengasah ketajaman batin diri, dari sisi pandang yang berbeda.
Comment by Nayantaka — July 13, 2008 @ 8:46 pm
nampaknya seperti buku yang menarik
Comment by herman saksono — July 13, 2008 @ 9:34 pm
kayaknya bagus …
Comment by nadya — July 13, 2008 @ 10:23 pm
aku baru baca sampel bukunya. aku lebih suka kata2 nya yang kaya. nggak tahu isinya secara keseluruhan. jadi pgn baca
Comment by Feri Gunawan — July 14, 2008 @ 8:45 am
pasti mumet sekali kalo baca buku ini
Comment by latree — July 14, 2008 @ 9:58 am
butuh energi lebih untuk membaca buku ini, hiks..
Comment by mr.bambang — July 14, 2008 @ 10:04 am
waaah update tenan sampeyan kang hehehe
Comment by mumu — July 14, 2008 @ 10:24 am
rasane aboootttt!!
Comment by mei — July 14, 2008 @ 10:29 am
aku gak suka buku yang berat2 kyk gini mas
Comment by pinkina — July 14, 2008 @ 2:41 pm
ahhh..tak suka novel..
Comment by susan — July 14, 2008 @ 2:48 pm
aLe belum beli, apalagi baca
thanks review nya,.
Comment by aLe — July 14, 2008 @ 3:11 pm
abis ini, coba cari buku BIOGRAFI ANGKA NOL, mas. Cocok dan nyambung. Yang nulis namanya Seife. Agak berat sih, tp nendang abis. Itu buku tentang sejarah angka nol dalam peradaban, bagaimana angka nol menjadi titik pusat polemik dalam filsafat, sains hingga teologi. kek-nya ayu utami baca buku ini deh….
Comment by mantan-blogger — July 14, 2008 @ 7:05 pm
jadi inget pilm “exorcist of emily rose”, sang pengacara bilang “di dunia ini terdapat 1 milyar orang, 500 juta diantaranya melakukan praktek apa yang biasa kita sebut tahayul”
500 juta, angka yang tidak boleh dianggap remeh kan..?
is not about facts, is about possibilites
Comment by torasham — July 14, 2008 @ 11:03 pm
Ayu Utami mandeg di SAMAN. Bilangan Fu jauuuuuuh dibandingkan Saman. Seharusnya novel ini bisa dipotong jadi 300-an halaman. Mubazir kertas.
Comment by Nari — July 16, 2008 @ 10:09 am
saman masih jauh lebih ok..ini sangat
panjang n isinya cuma gt deh..
Comment by dinadani — July 18, 2008 @ 10:06 am
Sebagai referensi pergulatan spiritualitas novel ini bisa menjadi pilihan. Halangan antusiasme membaca, barangkali pada bahasa sing rada abot dan hanya nikmat di awal, serta taburan ide yang melelahkan. Peminat ide pluralisme saya sarankan baca novel ini.
Comment by fred baning — July 19, 2008 @ 1:45 pm
lagi baca, tapi malah keduluan baca review nya, huhuhu…*nyesel*
Comment by dewi — July 19, 2008 @ 2:52 pm
langit cuma butuh keyakinan kita ya mas…....
Comment by endang — July 22, 2008 @ 8:43 am
Sudah baca … Kok kurang menggigit yaaa … Tp lumayanlah …
Comment by Nuki — July 23, 2008 @ 7:47 am
hemm baru berfikir untuk membeli
thx reviewnya
Comment by leni — July 25, 2008 @ 2:06 pm
Bilangan Fu dari bobot sastra mungkin kurang, tetapi ia justru mungkin leboih disukai oleh pembaca awam—ketimbang Saman dan Larung. Jika mo beli di tempat kita aja ya: www.khatulistiwa.net. Hehehe…
Comment by khatulistiwa — July 28, 2008 @ 3:20 pm
kurang dinikmati pembaca sastra? nggak juga tuh… saya pembaca sastra sejak sma sampe lulus dari sastra inggris ui. membaca Bilangan Fu, saya masih tetap kagum terhadap simbol-simbol yg kuat dan metafor-metafor yg edan. rasanya seperti kekuatan metafor cala ibi nya nukila amal bertemu dengan strukturalisme anthony burgess… bilangan fu memang harus ditulis setebal itu (bahkan saya sudah merasa ayu utami berusaha membuatnya setipis mungkin) karena banyak essei-essei dan ide-ide yg perlu dituangkan secara detail.
Comment by the Ra — August 1, 2008 @ 2:31 pm
belum baca euy, ada yang mau minjemin nggak ya? kalau ada, minjem dong!
Comment by sireum — August 8, 2008 @ 1:40 am
baru baca sampe halaman 150an
buat saya yg miskin perbendaharaan kosakata, buku itu seksi banget hehehe
Comment by edy — August 8, 2008 @ 2:26 pm
Baru baca dan rasanya di hanya punya ide yang rasanya terlalu dipaksakan dari alur pemikiran Yuda, sesuatu yang terasa sengaja dibuat agar menjadi satu kebetulan dan terasa bagai fiksi sebuah cerpen yang rasanya dibuat kasar, tidak halus
Comment by Hanni — August 8, 2008 @ 2:46 pm
Setelah baca, saya cuma berkomentar ini:
HIDUP POLITEISME….
Hehehehehe…
But, Ayu is a trend setter (setidaknya dia mengembangkan novel gaya STA di Grotta Azura dan novel gaya Iwan Simatupang)
Comment by Yuda — August 11, 2008 @ 3:22 pm
yang jelas, gambar sampulnya adalah kelamin perempuan: tubuhmu adalah tempat persembahyanganku…..
Comment by joko_supriyadi — August 21, 2008 @ 12:07 pm
DaH bAca bukunya,, tp ko msh menyisahkan banYak pErtanyaan y,,,
Comment by em2a — August 25, 2008 @ 9:23 am
wah mas fanabis memang keren abis. Sejak bulan July udah membaca buku ini.. Salut euy atas reviewnya… Aku baru mulai baca beberapa bab pertama saja sudah terkagum-kagum. Novel yang bagus sekali dan harus dibeli, kosa katanya sangat kaya, bahasanya sangat cerdas, dan terutama isinya, hebat. Gak sabar pengen pulang dan meneruskan baca hehehe
Comment by mei — September 3, 2008 @ 11:44 am
mei: sama! saya juga tiap hari pengen cepet2 pulang dan meneruskan baca neh hehehe. awal2 masih biasa aja. makin ke tengah makin seru… makin sedih bacanya… makin mendebarkan!
em2a: kalau masih banyak pertanyaan, dateng aja bedah buku nya di binus univrsity, 11 sept ini! berminat? ntar saya info jam dan tempatnya!
bravo ayu utami!
Comment by ninaonoda — September 4, 2008 @ 1:10 pm
sebuah novel memang harus menghadirkan berbagai unsur, selain wilayah teks yang berarti kandungan kata-kata didalamnya, novel saya pikir haruslah mempunyai tujuan…dan dalam bilangan fu tujuan ayu utami sudah jelas…memporak-porandakan pola pikir yang sempit tentang spiritualisme, dan ayu pun ingin mencoba menghadirkan sebuah pemikiran baru yaitu spiritualisme kritis…demikianlah menurut saya buku ini menjadi bagus….
Comment by wikupedia — September 14, 2008 @ 2:34 pm
NOvel Ayu Utami memang selalu menawarkan pemikiran-pemikiran yang lebih, tidak sekedar hiburan dangkal yang muncul di permukaan.Seperti halnya Saman dan LArung, novel ini cukup pantas mendapat acungan jempol. Namun kalau boleh saya berpendapat, Ayu Utami beranggapan bahwa “agama langit” gagal menyelamatkan wajah bumi, karena Ia sendiri gagal memaknai agama “langit”. Ia menyamakan agama dengan “dogma”. Bagi saya, agama sama sekali bukan dogma.
Comment by cika — April 23, 2009 @ 6:52 am
Aneh…tapi itulah jawaban mengapa karya sastra ini disebut sebuah karya…
dari SANGawam.
Comment by baox — April 27, 2009 @ 10:46 am
om kata yg itu (bergoler-goler) itu dr bhs. sunda.. gogoleran=tidur-tiduran.
sy juga baca Bilangan Fu.
Comment by sicakep — August 5, 2009 @ 12:55 am
gw malah kok jd krg respek ya ngliat resensi nya yg brusan d atas… soalnya dy mngannggp smw agma adl sama sih… it kn mbwt bleur kbnrn yg hakkiki… huhu
Comment by ayayay — October 5, 2009 @ 12:38 pm
bilangan fu bacaan yang berisi… walaupun ada beberapa bagian yang terasa terlalu berpanjang-panjang. Secara keseluruhan very recommended book. Membuka cakrawala cara berpikir yang bukan hanya satu cara pandang.
Comment by resti — November 18, 2009 @ 3:50 pm