hari ini aku memakai kemeja baru warna abu-abu yang karena great sale jakarta ulang tahun ke 481.  tak penting benar sebenarnya warna dan harga itu. namun cukup memberi sensasi beda menyambut hari baru.

baru? tidak juga. masih seperti kemarin, kemarin dulu dan dulu sekali. ketika aku menatap dunia pertama kali. oh ternyata rasanya seperti ini. ada rasa strowbery, coklat, terasi, whiski dan embun pagi.

bedanya sekarang aku bisa memakai celana jean yang kian terasa pendek lingkar pinggangnya. kulit muka menebal, tak imut lagi.

aku saat ini seperti sedang berlari maraton 42,195 kilo meter pada tiga per empat lintasan terakhir. namun pada nafas yang sudah tersengal, makin banyak palang rintangan. dan aku tak punya banyak perbekalan.

aku tak tahu makin ke depan, ujung lintasan itu akan berakhir di jalan buntu atau menuju lorong tak berujung. seperti bayi di dalam rahim, tak akan pernah tahu apa dan bagaimana isi dunia. tak apa, toh siapa yang sanggup memperlambat laju matahari kecuali hanoman si kera sakti?

aku ingin seperti dia, bahkan lebih. bisa pergi ke hari kemarin atau ke hari besoknya kalau bisa. sayang waktu terlalu singkat dan harus banyak melewatkan pada kejadian remeh nan berisik.

memilih-milih sepatu, mendengarkan dering telp yang ketika diangkat mati, mengucapkan selamat pagi hanya kepada orang-orang yang dihormati, makan ketupat sayur berkuah kental dengan satu atau dua iris tahu, membuat proposal-proposalan asal asalan untuk mengajukan pinjaman hutang yang alasannya untuk renovasi, membaca koran lampu merah, memesan bir sepitcher padahal hanya untuk sendiri ……

ups… "jangnlah mengeluh melulu. itu hanya akan menjadikan harimu sewarna bajumu. life is a great and wondrous mystery, and the only thing we know that we have for sure is what is right here and right now" katamu

baiklah.  aku akan ringas menjalani apa yang aku mau.