masih saja, blogger dipandang remeh. mereka, para blogger itu meski postingannya sekeren nominator nobel sastra, seinspiratif chiken soup atau seremeh cerita anak playgroup tetap saja dianggap bukan penulis.

penganganggap itu merasa perlu menasehati kepada para blogger itu agar menseriusi tulis menulis dan menjadikanya karir. sehingga kelak menjadi penulis profesional. seperti dokter misalnya.

harapannya, para blogger itu tertarik dengan tawarannya untuk ikut les menulis dan menerbitkan buku dan mendapatkan uang. dia lupa, hakikat sebenarnya siapa blogger itu.

mereka adalah orang-orang yang sedang merayakan kegembiraan seolah ucapan terimakasihnya kepada teknologi yang telah menjadikan menulis menjadi mudah, murah dan fun. tak perlu sensor dan ribet dengan urusan keredaksionalan yang statis.

blogger seolah melawan dan meledek aturan yang di buat oleh sekelompok komunitas yang menyebut dirinya penulis. blogger bebas mengekspresikan apa yang di rasa dan pikirkan. dengan bahasa tidak baku dan suka-suka si pemilik blognya.

justru di situlah kekhasan sebuah blog. beda! ide, cara menuturkan dan style nya tak pernah bisa ditemukan di media konvensional yang tertib, rapi namun dingin dan datar.

dan sebagian besar mereka berorientasi bukan uang. meski sebagian kecil ada yang memang berburu. namun lebih banyak yang andai blognya bisa mendatangkan uang itu adalah bonus.

jadi email yang dia kirimkan di sebuah milis itu ibarat menggarami laut. para blogger itu sedang berpesta, tak ingin dibebani apa-apa.