minggu pagi jam 05.00, yang malamnya tidur larut. di luar, gemericik air dari langit sanggup menunda keinginanku untuk mencek rss dan beberapa agregator. aku juga memperoleh alasan pembenaran untuk tak lari pagi yang kadang kulalukan terpaksa.
aku memilih memeluk guling yang warnanya mirip kue lapis itu lebih erat dibanding mendekap dompet ketika banyak pengemis menyodorkan amplop, meski aku tak lagi mengantuk.
tak melintas satu pun untuk merencanakan apa. apalagi rundown detail seperti acara wisata yang dikelola biro perjalanan. namun aku tetap mengingat, plan your work and work your plan. dan rencana selanjutnya, aku menarik selimut lebih rapat.
sayang tertunda. rutinitas ritual pagi menyela. aku melangkah tanpa menyalakan rokok ke kamar mandi.
hal yang tak bisa kulakukan pada hari biasa. kehilangan satu jam saja, kau harus memburunya seharian penuh. namun tak perlulah pasang jam weker yang bunyinya lebih buruk dari suara bos yang ngamuk. konon dialah orang yang tak punya harapan yang memulai paginya selalu mengandalkan alarm.
minggu pagi yang hujan ini sangat istimewa. secangkir kopi panas dan seorang perempuan yang mendampingi seperti yang tampak pada iklan-iklan itu klise. buku practical buddhism, terbitan karaniya yang kovernya hitam cukuplah. bukan sok-sokan membeli buku itu, kecuali harganya murah.
membaca selembar dua lembar dan menutupnya lagi. tak ada yang baru, semua sudah aku tahu. yang menjadi masalah hanyalah apakah aku mau melakukan itu. bunyi dering telepon. dari kakakku. ya aku diharapkan makan siang bersama keluarga mereka.
hujan belum mereda. tampak dua belas dvd film bajakan yang kubeli minggu lalu, namun belum sanggup memaksa beranjak dari tempat tidurku.



Ini gambaran kalau Sabtu dan Minggu, pagi yg sempurna bangettts, sampaiiii…
Sampai si mamah (istrikuh) tereak-tereak membangonkan “Papaaah, ini udah jam 11 gak bangon-bangon juga” Hihi..
Comment by Abe — June 16, 2008 @ 8:13 am
emang minggu kmrn tuh yhaaaaa hujannnnnnn gak berenti2, pagi2 nonton film kartun ama suami ditemani 2 mug milo panas….. hmmmm…
Comment by pinkina — June 16, 2008 @ 8:20 am
betul, itu pagi yang sempurna
Comment by iway — June 16, 2008 @ 8:29 am
nulis juga ah.
Comment by balibul — June 16, 2008 @ 9:39 am
lha mana potonya..????
Comment by escoret — June 16, 2008 @ 12:08 pm
lebih mantep lagi ditemenin perempuan beneran
Comment by Hedi — June 16, 2008 @ 12:49 pm
wah, pantes malemnya dapet hadiah kaos
Comment by dimas — June 16, 2008 @ 1:13 pm
bener2 pagi yang sempurna…. harusnya ada seekor kucing di pinggirnya, biar bs dielus2..
Comment by susan — June 16, 2008 @ 3:42 pm
beneeeer mas.., pagi yang sempurna bangeeet, tapi belum puas aku menikmati minggu pagi itu boss ku yang mungkin tidak punya waktu untuk keluarga memaksa ku untuk berangkat ke pabrik (:
Comment by Parta — June 16, 2008 @ 4:01 pm
Ah…pagi-pagi sudah harus siap-siap bepergian, gak sabtu gak minggu demi menunaikan kewajiban sebagai orang tua.
Comment by pasarsapi — June 16, 2008 @ 4:48 pm
Ya, minggu pagi itu memang sempurna.. Sempurna untuk tidur sepuasnya..
Comment by Nazieb — June 17, 2008 @ 1:06 am
Minggu pagi, hari yang hampir selalu dibiarkan tanpa rencana. Biar saja Tuhan yang akan menuntun kemana…
Comment by tukangkopi — June 17, 2008 @ 9:10 am
numpang tenar
Comment by monsterikan — June 17, 2008 @ 11:16 am