minggu pagi jam 05.00, yang malamnya tidur larut. di luar, gemericik air dari langit sanggup menunda keinginanku untuk mencek rss dan beberapa agregator. aku juga memperoleh alasan pembenaran untuk tak lari pagi yang kadang kulalukan terpaksa.

aku memilih memeluk guling yang warnanya mirip kue lapis itu lebih erat dibanding mendekap dompet ketika banyak pengemis menyodorkan amplop, meski aku tak lagi mengantuk.

tak melintas satu pun untuk merencanakan apa. apalagi rundown detail seperti acara wisata yang dikelola biro perjalanan. namun aku tetap mengingat, plan your work and work your plan. dan rencana selanjutnya, aku menarik selimut lebih rapat.

sayang tertunda. rutinitas ritual pagi menyela. aku melangkah tanpa menyalakan rokok ke kamar mandi.

hal yang tak bisa kulakukan pada hari biasa. kehilangan satu jam saja, kau harus memburunya seharian penuh. namun tak perlulah pasang jam weker yang bunyinya lebih buruk dari suara bos yang ngamuk. konon dialah orang yang tak punya harapan yang memulai paginya selalu mengandalkan alarm.  

minggu pagi yang hujan ini sangat istimewa. secangkir kopi panas dan seorang perempuan yang mendampingi seperti yang tampak pada iklan-iklan itu klise. buku practical buddhism, terbitan karaniya yang kovernya hitam cukuplah. bukan sok-sokan membeli buku itu, kecuali harganya murah.

membaca selembar dua lembar dan menutupnya lagi. tak ada yang baru, semua sudah aku tahu. yang menjadi masalah hanyalah apakah aku mau melakukan itu.  bunyi dering telepon. dari kakakku. ya aku diharapkan makan siang bersama keluarga mereka.  

hujan belum mereda. tampak dua belas dvd film bajakan yang kubeli minggu lalu,  namun belum sanggup memaksa beranjak dari tempat tidurku.