aku menjadi salah satu orang yang terpilih memperoleh fasilitas kartu xxx dari sebuah bank. itu kata perempuan dari seberang sana. bukan kartu kredit, namun kartu yang bisa dipakai belanja yang cara membayarnya dengan cicilan tetap. tanpa bunga dan berlaku seumur hidup.
entah sudah beredar kemana saja identitasku. sebelumnya juga pernah ada yang menyodorkan paket liburan yang konfirmasinya hanya via telepon. benarkah aku memang membutuhkan?
saat ini para kapitalis itu mirip teroris. tiap hari mereka mencipta kebutuhan baru. mendesakkan ke orang-orang untuk memakai produknya. mereka mengepung dari seluruh arah.
di televisi, di radio, di koran, di majalah, di tabloid, di selebaran. di billboard, di spanduk, di poster di kanan, kiri, melintang di sepanjang jalan. di lift, di sms hp, di telepon langsung, di milis, di yahoo messanger.
kita benar-benar kesulitan untuk berpaling. sehingga kita dengan suka rela membenarkan persepsi mereka lalu mengikutinya takzim.
untuk kebutuhan toiletris misalnya. sabun mandi saja tak cukup satu. kulit di pantat berbeda dengan kulit wajah, maka tambah satu lagi kebutuhan untuk untuk membersihkan wajah dengan sabun khusus.
untuk membersihkan gigi, dengan pasta saja belum cukup. kita masih perlu produk kumur untuk menyempurnakannya. untuk bercukur tak hanya butuh silet, namun masih perlu "foam" dan after shave. dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.
kita dipaksa untuk menghamburkan uang untuk sesuatu yang mungkin kita tak membutuhkan.


