tiap aku pulang, selalu ada yang bertanya ada keperluan apa. tak salah, andai pulang kampung itu sesuatu yang tak penting kalau tak terpaksa. buang-buang waktu dan tenaga.
menumpang kereta senja yang tiketnya kuperoleh dari calo aku sampai ke rumah. rumah orang tuaku tepatnya. di tempat ini waktu seperti berhenti. semua masih seperti bulan kemarin, lima, sepuluh atau dua puluh tahun lalu. nyaris tak ada yang berubah.
jam dinding persegi panjang masih terpasang di ruang tengah. salah satu sudut meja yang telah membocorkan kepalaku masih tetap berwarna coklat tua. hanya ruangan itu kini tampak lebih mengusam. dindingnya mirip tembok stasiun kota tua, berjelaga. juga kedua bola mata itu.
aku menjadi orang asing di rumah sendiri. aku telah nyaris lupa bagaimana menghadapi jam sembilan malam yang serasa dini hari yang sunyi. aku tak lagi bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan yang pelan sekali.
penatku belum usai. namun menginap semalam saja rasanya cukup. dan aku pergi lagi. hamparan hijau sawah di kaki bukit tak lebih indah daripada gubuk-gubuk di sepanjang rel dekat stasiun jatinegara. bau anyir kali yang airnya kelam lebih akrab daripada bau segar embun di ujung rumput.
meskipun sebenarnya aku tahu, rumah adalah ruang yang selalu membuka pintunya ketika semua tempat menolak kehadiranku. namun kelebatan pikiran itu segera cepat berlalu.
bertemu, ngobrol dengan teman-teman terasa menjadi lebih penting. mengurus pekerjaan yang tak pernah selesai dan tentu saja seratus satu alasan pembenaran lain untuk segera meninggalkannya.
sekarang aku telah memperoleh jawaban, sebuah pertanyaan yang tak pernah kudengar sekalipun. "kenapa mereka jarang pulang?".



aku juga jarang pulang. sebab, rumah sejati ada di hati (alaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah gombal!)
Comment by mumu — June 10, 2008 @ 11:35 am
rupanya racun metropolitan sudah jadi aliran darah yang menghidupimu..
Comment by tukangkopi — June 10, 2008 @ 12:32 pm
jarang pulang, kayak tulisan di bokong truk
Comment by iway — June 10, 2008 @ 1:09 pm
jarang pulang kaya bang toyib aja.
kalo aku sih seneng pulang, karena disitulah aku menjadi manusia. (lha kalo di jakarta jadi apa?)
Comment by bangsari — June 10, 2008 @ 1:26 pm
aku sih lebih suka pulang, karena disanalah kehangatan dan keramahan sejati kuperoleh. halah!
tapi bener kok, andai tiap hari, minggu atau bulan bisa pulang kampung akan kulakukan itu.
Comment by evi — June 10, 2008 @ 1:49 pm
kangen pulang
Comment by zam — June 10, 2008 @ 4:43 pm
aku cuti dr tgl 23-27 juni 08 + wikend 2 kali = total 9 hari, kayaknya seh mo pulang. hayoooo siapa yg mau ikut ???????? enak loh pulang, memanjakan lidah, memanjakan diri, uuuhhhh i love it
Comment by pinkina — June 10, 2008 @ 5:28 pm
uh… pengen pulang….
Comment by latree — June 10, 2008 @ 6:25 pm
agak bingung klo ditanya pulang, soalnya dari dulu dah ke’ kutu loncat ikut sodara apalagi udah gak ada orang tua. Pulang ya skr ditempat suami ama anak ngumpul
Comment by kenny — June 10, 2008 @ 7:18 pm
kok saya jadi sedih bacanya…....ironis sekali, gitu…..
Comment by endang — June 11, 2008 @ 9:15 am
betul banget, di rumah (ortu) waktu melambat. bayangan waktu masih kecil suka muncul he..he.he..he..I wish I could go home everyday.
Tapi rasanya udah ga sama seperti dulu. It will never be the same.
Comment by krisna — June 11, 2008 @ 10:26 am
ya jangan gitu-gitu amat donk mas. mereka yang dirumah tuh pasti sangat mengharapkan mas untuk pulang, jadi ga ada salahnya kalau ada waktu untuk pulang ya kita manfaatkan untuk membahagiakan orang dirumah dengan mengunjungi mereka
Comment by daniel — June 11, 2008 @ 5:06 pm
jangan begitu mas.. rumah itu ada orang tua kita, beruntunglah masih lengkap (?).. Kedatangan kita, meski tak mereka ekspresikan adalah selalu yang ditunggu-tunggu…percaya deh.. (jangan sp menyesal spt sy )
Comment by susan — June 11, 2008 @ 6:20 pm
suatu saat nanti, entah kapan ..
kamu pasti akan merindukan yang namanya kampung halaman mas karmin.
miss my parents so much
Comment by yudhiapr — June 16, 2008 @ 1:41 pm
Idem …
Comment by Nuki — June 23, 2008 @ 10:04 am