tiap aku pulang, selalu ada yang bertanya ada keperluan apa. tak salah, andai pulang kampung itu sesuatu yang tak penting kalau tak terpaksa. buang-buang waktu dan tenaga.
menumpang kereta senja yang tiketnya kuperoleh dari calo aku sampai ke rumah. rumah orang tuaku tepatnya. di tempat ini waktu seperti berhenti. semua masih seperti bulan kemarin, lima, sepuluh atau dua puluh tahun lalu. nyaris tak ada yang berubah.
jam dinding persegi panjang masih terpasang di ruang tengah. salah satu sudut meja yang telah membocorkan kepalaku masih tetap berwarna coklat tua. hanya ruangan itu kini tampak lebih mengusam. dindingnya mirip tembok stasiun kota tua, berjelaga. juga kedua bola mata itu.
aku menjadi orang asing di rumah sendiri. aku telah nyaris lupa bagaimana menghadapi jam sembilan malam yang serasa dini hari yang sunyi. aku tak lagi bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan yang pelan sekali.
penatku belum usai. namun menginap semalam saja rasanya cukup. dan aku pergi lagi. hamparan hijau sawah di kaki bukit tak lebih indah daripada gubuk-gubuk di sepanjang rel dekat stasiun jatinegara. bau anyir kali yang airnya kelam lebih akrab daripada bau segar embun di ujung rumput.
meskipun sebenarnya aku tahu, rumah adalah ruang yang selalu membuka pintunya ketika semua tempat menolak kehadiranku. namun kelebatan pikiran itu segera cepat berlalu.
bertemu, ngobrol dengan teman-teman terasa menjadi lebih penting. mengurus pekerjaan yang tak pernah selesai dan tentu saja seratus satu alasan pembenaran lain untuk segera meninggalkannya.
sekarang aku telah memperoleh jawaban, sebuah pertanyaan yang tak pernah kudengar sekalipun. "kenapa mereka jarang pulang?".


