"saya memutuskan berhenti kerja".
perbincangan via telepon itu berlanjut di warung kopi. aku tak bisa menampik kala ia mengucapkan ingin bertutur banyak. nyaris tiga jam aku lebih banyak diam menyimak.
"saya sekarang bebas, tak seperti tawanan yang selalu ingin melarikan diri".
ambisi berhenti itu sudah sejak lama. ia merasa selalu berada di jalanan jakarta di waktu pagi dan petang. menuruti tips klise yang di bacanya di majalah urban agar refreshing sudah. namun tetap saja penat tak hilang.
"saya pernah melakukan pelarian. ternyata sebotol jack daniel atau khusyuk berdzikir mempunyai efek yang sama: meredam sementara penderitaan".
kelakuannya itu makin menjauhkan dirinya dengan parameter-parameter kelaziman. apalagi oleh marketing asuransi yang memasarkan investasi berjangka 5, 10 bahkan 15 tahun.
"seminggu itu waktu yang terlalu lama bagi saya. bahkan untuk besok pagi saja tak tahu apa yang akan saya hadapi. apakah harus menunggu selama itu hanya untuk sedikit berbahagia?"
mungkin benar. andai kau terkapar sakit atau suatu hari tergencet diantara metromini dan truk, bukankah kau akan merepotkan ssaudaramu bahkan orang sekampungmu yang menduga kau telah sukses?
"keyakinan seperti itu muncul karena takut menderita. saya sudah melampaui itu. bukankah puncak penderitaan itu hanyalah kematian?"
gelas capucino kedua tinggal setegukan. sayang tak bisa memesan lagi. warung makin senyap. mbaknya sudah berkemas.
"saya ingin berziarah ke makam"
ia menceritakan mimpinya. malam itu ia menyusuri jalan sempit yang makin ke depan makin melebar. lebar sekali dan di ujungnya telah menunggu sesosok yang ia kenal, ayahnya. ia mengulurkan tangan dan menatapku lama.
"saya pamit ya"



Wah asyik masyuk dunia akhir itu yach mas….
Atau ini hanya sekedar satir???
Comment by pema — June 5, 2008 @ 10:28 am
“lebar sekali dan di ujungnya telah menunggu sesosok yang ia kenal, ayahnya. ia mengulurkan tangan dan menatapku lama.”
weh, kowe wis duwe anak po kang? tenane?
Comment by bangsarii — June 5, 2008 @ 10:37 am
“saya pernah melakukan pelarian. ternyata sebotol jack daniel atau khusyuk berdzikir mempunyai efek yang sama: meredam sementara penderitaan”.
sebenarnya mendapatkan efek “meredam penderitaan” berarti dia belum khusyuk berdzikir
asal kata “dzikir” ?
Comment by dodolimut — June 5, 2008 @ 11:31 am
ini cerita novel yaa? atau true story?
niceeee….
Comment by ria — June 5, 2008 @ 11:38 am
makanya, ayuk….pulang kampung aja
Comment by evi — June 5, 2008 @ 2:45 pm
smoga stl bilang pamit temenmu baik-baik aja
Comment by kenny — June 5, 2008 @ 8:21 pm
waaa..koq melarikan diri seh?
konon kiy…kata orang bijak : contohlah kuli2 pelabuhan yg membawa beban (pasti dipanggul di pundak dan berat to?) trus dia membungkuk, untuk membuang bebannya…....
jadiii klo beban derita ini tak lagi terbendung…ya rukuk dan sujud sing uakehhhhh
ndak usah make jack daniel
Comment by wieda — June 5, 2008 @ 10:20 pm
banyak orang ingin bahagia, tapi seringnya mereka merasa tidak pantas untuk bahagia
Comment by tukangkopi — June 6, 2008 @ 6:58 am
moga dia memang telah benar-benar bahagia di dunia barunya yo mas…
Comment by Ndoro Seten — June 6, 2008 @ 4:39 pm
Bilang hati-hati aja Pak. Menurut pengalaman saya investasi berjangka yang marak sekarang ini kebanyakkan aksi tipu-tipunya. Korbannya bukan orang luar tapi marketingnya sendiri.
Comment by Rafki RS — June 7, 2008 @ 11:02 am
dia pamit ke bapaknya? atau pamit ke si mbak?
Comment by latree — June 7, 2008 @ 12:37 pm
bang,selamat loncing y . .
by: rian_jambi
Comment by rian — June 7, 2008 @ 11:53 pm
Hmmm… 1 lg alasan kenapa saya ga mau kerja di Jakarta.
Comment by Juminten — June 8, 2008 @ 9:07 pm
bagus..bagus..tapi btw siapa yang bayar untuk kopinya? jika pekerjaan sekarang tidak bawa bahagia, tinggalin aja. do what you love. tapi ada konsekuensinya. kata konfusius, jika kita bekerja di bidang yang kita cintai maka seumur hidup kita tidak akan bekerja
Comment by krisna — June 9, 2008 @ 11:49 am
ini bener apa cmn cerita..???
bingung
Comment by escoret — June 9, 2008 @ 3:48 pm