"saya memutuskan berhenti kerja".

perbincangan via telepon itu berlanjut di warung kopi. aku tak bisa menampik kala ia mengucapkan ingin bertutur banyak. nyaris tiga jam  aku lebih banyak diam menyimak.

"saya sekarang bebas, tak seperti tawanan yang selalu ingin melarikan diri".

ambisi berhenti itu sudah sejak lama. ia merasa selalu berada di jalanan jakarta di waktu pagi dan petang. menuruti tips klise yang di bacanya di majalah urban agar refreshing sudah. namun tetap saja penat tak hilang.

"saya pernah melakukan pelarian. ternyata sebotol jack daniel atau khusyuk berdzikir mempunyai efek yang sama: meredam sementara penderitaan".

kelakuannya itu makin menjauhkan dirinya dengan parameter-parameter kelaziman. apalagi oleh marketing asuransi yang memasarkan investasi berjangka 5, 10 bahkan 15 tahun.

"seminggu itu waktu yang terlalu lama bagi saya. bahkan untuk besok pagi saja tak tahu apa yang akan saya hadapi. apakah harus menunggu selama itu hanya untuk sedikit berbahagia?"

mungkin benar. andai kau terkapar sakit atau suatu hari tergencet diantara metromini dan truk, bukankah kau akan merepotkan ssaudaramu bahkan orang sekampungmu yang menduga kau telah sukses?

"keyakinan seperti itu muncul karena takut menderita. saya sudah melampaui itu. bukankah puncak penderitaan itu hanyalah kematian?"

gelas capucino kedua tinggal setegukan. sayang tak bisa memesan lagi. warung makin senyap. mbaknya sudah berkemas.  

"saya ingin berziarah ke makam"

ia menceritakan mimpinya. malam itu ia menyusuri jalan sempit yang makin ke depan makin melebar. lebar sekali dan di ujungnya telah menunggu sesosok yang ia kenal, ayahnya. ia mengulurkan tangan dan menatapku lama.

"saya pamit ya"