khutbah paling baik sejak telinga saya bisa mendengar terjadi di lantai ketiga sebuah gedung plat merah. dari atas mimbar, khatib yang aksen jawanya tebal itu mencerahkan secara universal.
aku datang 5 menit sebelum doa sebagai akhir ritual itu di ucapkan. sengaja nelat. aku gagal mengalahkan kebosanan mendengar gemuruh khutbah amarah yang disampaikan bapak bergamis jumat jumat sebelumnya. rasanya, datang ke masjid hanya menambah akumulasi kejengkelan.
kejengkelan itu menyingkir siang itu saat dia mengatakan, orang yang beriman di mata Tuhan itu bukan mereka yang menganut agama-agama tertentu. namun mereka yang melakukan kebaikan lebih banyak.
meskipun tidak ikhlas!
andai kalian membaca postingan yang sempurna bagusnya sampai kau enggan memberikan komentar namun tanganmu tetap ngeklik tombol "leave a message" dan menuliskannya, kau adalah blogger yang sabar. blogger yang telah sanggup mengalahkan egonya.
sebabnya mayoritas blogger akan merasa senang memperoleh komentar. meskipun singkat seperti "wah panjang juga ya", atau "makan-makan!"
lalu apakah keimanan seseorang itu di tandai dengan banyaknya ayat yang telah di bacanya berulang? atau banyaknya jumlah sujud sehari semalam? atau seringnya mencium batu hitam di tanah suci, atau kerapnya ia memberi nasehat kebaikan di depan banyak orang (namun diam-diam ngedumel ketika di buka jumlahnya sedikit)?.
panjangnya janggot, menghitamnya jidat, banyaknya isteri muda, banyaknya kupluk, tasbih, kafiyeh yang dipunyai, atau aksi brutalnya menumpas warung remang-remang pelacuran? atau tindakan biadabnya menyerang kelompok lain hanya karena berbeda ide?


