
andai baru kali ini mendengar ada museum layang-layang di jakarta, sama. aku juga baru tahu kemarin saat membaca brosur yang dibagikan dinas kebudayaan dan permuseuman dki.
dari museum yang tersebar di jakarta itu, baru empat yang sempat aku kunjungi. museum gajah, wayang, seni rupa dan keramik juga museum sejarah jakarta. semua keadaanya mirip. lorong-lorong panjangnya senyap, tak ada guide, tak ada informasi benda koleksi kecuali secuil nama yang diterakan di kertas
mengenaskan melihat benda-benda tak ternilai harganya itu disimpan seadanya. di museum wayang misalnya. nyaris seluruh ac yang berada di ruangan mati. dua petugas tiket yang ibu-ibu itu pun melayani pengunjung tanpa ekspresi.
di gedung yang dulunya gereja ini menyajikan bermacam wayang dari jawa bali dan sumatra. juga beberapa boneka dari india, perancis, korea dan negara lain. yang paling unik, wayang jesus dari solo.
museum seni rupa dan keramik lebih menyayat. minggu 25 mei 2008 jam 12:00 hanya empat orang yang berada di gedung yang didirikan pada januari 1870. museum ini menyajikan lukisan seniman indonesia secara periodisasi. dari lukisan raden saleh sampai dede erisupria. di museum ini, bisa belajar membuat gerabah.
museum sejarah jakarta yang berada di kawasan kota tua tampak lebih ramai. namun mereka datang bukan untuk melihat koleksi di dalamnya. mereka adalah pasangan muda yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding. landskap kota tua memang sangat menarik untuk di jadikan background.
dulu gedung ini digunakan sebagai balai kota batavia pada jaman voc. di dalamnya ada beberapa koleksi furniture antik dari abad 17. misalnya meja bundar yang diameternya nyaris 2 meter tanpa sambungan sama sekali. tersimpan juga beberapa batu prasasti.
semua museum itu mirip gudang. tentu bukan alasan tak ada biaya perawatan meski setiap pengunjung hanya dibebani tiket rp 2000 untuk umum dan menggratiskan pelajar dan anak.
berkunjung dan melihat peradaban masa lalu itu membuatku berandai-andai, pasti lebih asyik berkunjung ke museum senyaman ke mall.
*) museum sejarah jakarta. foto: http://farm2.static.flickr.com/1436/636295543_ddd699e150_o.jpg



museum layang2 yg di pondok labu itu ya…? aku yg dekat dan sering lewat depannya aja belum pernah mampir kok…
ada lagi Mas, museum BI di daerah kota jalan kali besar barat sebelah museum bank mandiri, bagus loh… (jarene Bos-ku, yg sekarang pindah kesana)aku juga belum sempet nengok hehehe….
Comment by evi — May 26, 2008 @ 9:08 am
iya, sayang memang. museum-museum di luar negeri mendapatkan tambahan income justru dari penjualan suvenir. tapi di sini, toko suvenirnya terkadang malah lebih memprihatinkan dari museumnya hehehe.
mungkin memang pengelola museum harus lebih kreatif lagi. misalnya, bayangkan berapa banyak orang yang mau belajar membatik, membuat layang-layang, dan lain-lain, ini sebenarya bisa menjadi daya tarik turis sendiri dan menjadi sumber pemasukan. juga keperluan fashion photography atau wedding, sebenarnya juga bisa dijadikan sumber penghasilan tambahan. belum lagi kunjungan dari murid-murid sekolah? adanya diskusi terbuka di museum?
dan jika seluruh museum serta peninggalan bersejarah kita terawat dengan baik, ini bisa kita jual menjadi semacam paket “the ultimate historical/cultural trip” dalam visit indonesia year berikutnya… tapi tentu saja, lagi-lagi yang penting adalah ada atau tidaknya NIAT. (seperti dikatakan Dalton Tanonaka dalam luncheon beberapa waktu lalu, gimana bisa pemerintah mencanangkan visit indonesia year kalau toilet di bandara internasional kita keadaannya masih menyedihkan seperti itu)
impian saya, akan ada satu rute bis khusus yang nyaman, dan perhentiannya adalah di titik-titik museum seluruh jakarta, beroperasi setiap sabtu-minggu. mungkin berlebihan, tapi ah, senangnya jika benar mewujud nyata
Comment by hanny — May 26, 2008 @ 9:16 am
bukan tidak niat mas, tapi tidak ada anggaranya
Comment by mikow — May 26, 2008 @ 9:40 am
sebenarnya harga tiket masuk murah banget. Seperti di museum Nasional ( Gajah ) hanya Rp 750,- per orang. Apakah cukup untuk biaya operasional ?
Disisi lain bis ajadi pemacu bangsa sendir untuk menghargai sejarah dan budaya lewat Museum. Tapi mungkin anak sekarang juga nggak keberatan membayar Rp 25,000,- untuk jalan nonton di MegaBlitz daripada bayar Rp 750,- melihat Museum yang apatis, kotor, panas berdebu. Jadi kuncinya memang harus atraktif, sepeti museum di luar negeri yang ada unsur multimedianya , nggak sekedar majang patung patung saja.
Comment by iman brotoseno — May 26, 2008 @ 10:35 am
salah satu alternatif tempat wisata nih. sayangnya orang indonesia banyak yang tidak terbiasa pergi ke museum.
Comment by itikkecil — May 26, 2008 @ 11:12 am
pas nang jakarta, sing sempat tak delok ya musium gajah, musium arsip nasional, dan monas…ama ada dua musium di taman mini…(atau tepatnya lebih semcam ruang pamer tentang masalah iptek)
Comment by nothing — May 26, 2008 @ 11:45 am
aku jg sebenernya pengen tuh maen2 ke museum… cuman kok ga ada tmn yah! huhuhu… mosok sendirian
Comment by thuns — May 26, 2008 @ 2:37 pm
saya satupun belum pernah mengunjungi mas..
Comment by Parta — May 26, 2008 @ 4:11 pm
Sayang sekali, kemarin gak bawa kamera mas. Berarti masih sekitar 60an lagi museum di Jakarta yang belum kita gerayangi mas.
Comment by mr.bambang — May 26, 2008 @ 5:23 pm
kalu aku ke jakarta, aku akan ke museum senirupa. aku janji
Comment by latree — May 26, 2008 @ 5:27 pm
belum ngajak anak2 jalan ke museum nih…....
Comment by endang — May 26, 2008 @ 5:45 pm
weh..
tunggu aksi saya! jelajah museum! gyahahaha..
meringis karena kondisinya mengenaskan
Comment by zam — May 26, 2008 @ 5:56 pm
mestinya dijadikan acara kunjungan wajib sekolah.
Comment by mina — May 26, 2008 @ 6:37 pm
Tidak banyak lagi anak muda sekarang yang menyukai berkunjung ke museum. Tak tahu kenapa, mereka lebih menyukai mall dan segala macam tempat hiburan sejenis. Mungkinkah akibat pengaruh tontonan televisi?
Comment by Rafki RS — May 26, 2008 @ 6:53 pm
aku blm pernah ke museum
Comment by pinkina — May 26, 2008 @ 7:18 pm
kalau berkunjung ke museum..saya selalu mimpi begini : andaikan museum ini seperti mall, informasi lengkap dan digital, ada multimedianya, ada studio tempat kita melihat film masing2 sejarah dari setiap benda koleksinya… tapi tiba2 sy terbangun, lalu mengelap keringat yg mengucur di dahi saya, krn kepanasan. Lalu saya keluar cari teh botol…
Comment by susan — May 26, 2008 @ 7:40 pm
saya sama sekali belum pernah mengunjungi musium yang ada di jakarta.. pingin sebenernya tapi blum tergerak saja
Comment by Totok Sugianto — May 26, 2008 @ 9:26 pm
terakhir ke museum waktu smp, rombongan dari sekolah
Comment by kenny — May 26, 2008 @ 9:58 pm
Sayang sekali, tak banyak orang yang perduli pada keberlangsungan hidup Musium. Tak banyak juga yang dengan riang gembira datang ke musium. Ibarat gudang saja..musium tempat menyimpan benda yang sudah tak lagi terpakai, begitu mungkin?
Comment by unai — May 27, 2008 @ 10:48 am
kalau museumnya ada ruangan khusus dugemnya pasti saya jamin ramai museum itu mas…
Comment by daniel — May 27, 2008 @ 5:18 pm
kalo jalan2 lagi ikut yah
!
Comment by neng fey — May 31, 2008 @ 1:54 pm
tapi aku kurang suka mendengarkan guide menjelaskan.. :p lebih asik menikmati museum dg caraku sendiri..
Comment by imgar — July 8, 2008 @ 6:30 pm
Layang2, hmm jadi inget the kite runner.
Museum Jogja Kembali juga ga jauh beda mas, kemaren pas saya kesana sepi banget, parahnya baru 2 ruangan aku jelajahi eh tiba2 mati lampu
Comment by jakober — July 11, 2008 @ 3:29 pm