tarip pulsa makin murah akibat perang dari banyak operator. dampak buruknya bagi pelanggan adalah mengubah mereka lebih asosial.
di sebuah angkot pagi ini, "ini dengan bapak mangambas, sdsfsfsd… teriakan itu membahana ke sela-sela ketiak penumpang yang terangkat.
dari kursi belakang tak mau kalah. seorang ibu menelepon ke rumah, memastikan kompornya sudah mati. lainnya, berbual-bual yang aku kira membicarakan pekerjaan di pabriknya. tiba-tiba menelepon menjadi lebih penting daripada pesan yang disampaikan.
tanpa sadar, setiap orang akan melambungkan volume suaranya ketika berbicara via telepon.
mereka abai pada orang lain yang sedang melamun atau meneruskan tidur malamnya. ekspresi misuh, perintah represif diktatoral dan gaya-gayaan menye-menye tak penting itu tentu bisa saja meggeramkan mood penumpang lain.
mungkin mereka lupa, di dalam angkot in bukanlah ruang private. ada hak penumpang lain yang juga mesti dipikirkan. apakah perlu memperlakukan penelepon liar itu sama dengan perokok? meskipun hasilnya nyaris sia-sia juga?
tiba-tiba saya sadar, mungkin saya saja yang sok elitis namun kere abis!



lha ya yang begitu salah satu gejala gagap teknologi itu, iso tuku tapi ra iso nganggo (dengan benar)
Comment by Mbilung — May 16, 2008 @ 8:55 am
Jan-jane memang urgent untuk nelepon, atau mung sekedar nggaya to kang? Jangan-jangan pula, sebenarnya nggak ada lawan bicara di ujung telepon satunya, cuma agar kelihatan jadi orang penting, orang sibuk, sekaligus punya henpon yang paling mak nyuss. Saya sangat respek, apabila di tempat umum, ada seseorang menerima telepon, dia hanya menjawab singkat, sebentar, hubungi saya lima menit lagi, atau saya akan telepon balik. kemudian dia menunggu momen tepat untuk menelepon balik. Sama respeknya saya dengan seseorang yang langsung mematikan rokoknya begitu memasuki ruang publik.
Comment by Nayantaka — May 16, 2008 @ 10:21 am
saya sms atau telpon cuma untuk nanya/memastikan
‘pulang bareng ga?’ atau ‘jemput dimana?’ atau ‘cepetan! ga sampe2 sih!’ itu aja soalnya lainnya ga bisa hehehe….
Comment by evi — May 16, 2008 @ 10:52 am
lha piye maneh, mas? namanya juga….halah!
Comment by venus — May 16, 2008 @ 1:26 pm
halahhh… penyakit sosial itu mas…
Comment by susan — May 16, 2008 @ 1:35 pm
hehe..saya juga suka aneh dengan mereka yang menelpon dengan santai diangkot dengan suara keras. Tapi, itu memang gejala koq
Yang penting, kita pribadi tidak melakukannya
hehehe..
Comment by SiMunGiL — May 16, 2008 @ 2:10 pm
ya dimaklumi saja mas, siapa tau memang mereka sedang punya urusan yang penting dan harus berbicara lewat HP saat itu juga…kecuali kalau mereka nelponnya sudah lama trus sambil ketawa ketiwi gak jelas…*ambil duit dikantong langsung bayarin aja tuh HPnya trus buang keluar*
)
Comment by daniel — May 16, 2008 @ 2:52 pm
tarif murah, tapi saya tetep aja jarang nelpon, n jarang sms
Comment by Ojat — May 16, 2008 @ 3:44 pm
yap… entah kenapa selalu pake acara teriak biasanya orang2 yang menelfon di publik area… alih2 menyingkir buat mencari tempat yang sepi untuk mendengar suara, mereka malam ikut menyumbang kebisingan…*sigh*....
hehehehehe
oh ya, mungkin efek merasa mampu kali ya mas?
Comment by datum — May 16, 2008 @ 9:13 pm
hahaha sok elitis tapi kere abis
aku malah udah males pegang hp
Comment by kenny — May 16, 2008 @ 9:25 pm
kita memang masih harus belajar soal etika dalam bidang ini
Comment by Hedi — May 16, 2008 @ 9:45 pm
ada yg kalo udah nrima phon, lupa sedang berada dimana…....
Comment by Rita — May 16, 2008 @ 9:55 pm
Nah ini juga bagus blognya..
Comment by herlinatiens — May 16, 2008 @ 10:36 pm
huheuheuhe karena menghabiskan waktu di angkot sendirian kurang menyenangkan… rasanya demikian… mumpung murah ya kenapa ngga, yes? hihihi
Comment by natazya — May 17, 2008 @ 12:53 am
oh iya tuh kalo lagi ngebis sering banget nemuin yang begitu..aku bilang sih itu,.,..ndeso..hehe
Comment by ika — May 17, 2008 @ 7:45 am
aku klo telp an jam2 an….tapiiii dari rumah
klo dijalan hp berdering aja sering terabaikan….wong aku ribut ngobrol terus hihihi
Comment by wieda — May 17, 2008 @ 8:38 am
Karakter orang kan berbeda-beda. Mungkin dia termasuk orang yang karakternya keras, sehingga kalau ngobrol lewat telpon, suaranya keras.
Atau mungkin si penerima telpon tidak mendengar suaranya sehingga dia bersuara keras seperti teriak-teriak.
Comment by Edi Psw — May 17, 2008 @ 11:42 am
bole minta ngga ya ?
Comment by realylife — May 17, 2008 @ 4:15 pm
hla…bakul soto (gerobak dorong) yg lewat depan rumah,ndorong gerobaknya sambil ngobrol pake HP…hi..hi….gaya tenan!
Comment by gambarpacul — May 17, 2008 @ 7:30 pm
kenapa mereka teriak? karena di angkot, merekan gak denger dengan jelas suara lawan bicaranya. tanpa sadar, dipikirnya lawan bicara juga mengalami hal yang sama, padahal belum tentu.
kalo pembicaraannya penting sih, mustinya bisa dimaklumi. tapi kalo ngobrol….:P
Comment by latree — May 17, 2008 @ 8:37 pm
hmmmm… layak direnungkan
Comment by sluman slumun slamet — May 18, 2008 @ 12:54 am
stuju ama latree, mbok terak/ngomongnya jangan lamalama dong…bisa pengeng juga kuping orang2 yang disitu.. sebel banget sama org yg nelpon diangkot kencengkenceng kayak di pasar
Comment by dilla — May 18, 2008 @ 10:02 am
mosok telpon ma misuh2 mas…
Comment by ario saja — May 18, 2008 @ 11:08 am
sedia headset aja mba’ buat jaga2 kalo diangkot ada yang misuh2 kan kita bisa ndak denger
Comment by ghatel — May 18, 2008 @ 11:21 am
maaf saya tidak membaca profil dulu ketika akan komen ndak taunya yang punya blog seorang pria, tapi saya salah komen dengan kata mba’...
Comment by ghatel — May 18, 2008 @ 2:43 pm
iya sih, menurutku yg terima telp teriak2 di angkot itu norak abisss… tp mungkin mereka gak nyadar juga sih, kalo suara mereka kenceng bgt.. hehehehe
Comment by Nina — May 19, 2008 @ 9:05 am
mgkn sebagian dr kita jg pernah gt tp ga nyadar aja kalo suarnya gede bgt pas nelp apalagi ditengah bisingnya jalanan pasti deh otomatis suara jd besar gara2 telinga rada budeg
Comment by ayu — May 19, 2008 @ 9:25 am
slosinya satu aja mas :
hindari naik angkot !
:D
Comment by lies.surya — May 19, 2008 @ 9:38 am
emang ganggu banget, kok. apalagi kalo kita sedang dalam mood bengong.
Comment by hanny — May 19, 2008 @ 4:24 pm
mungkin karena suaranya kurang jelas mas…:)
maklum sekarang operator GSM makin gak jelas pelayanannya
Comment by Tresno — May 20, 2008 @ 1:14 am
ceritanya mas merasa terganggu ya ketika naik kendaraan umum ada orang telepon tereak2…hehehe…langsung aja mas juga telepon cempluk dengan tereak2, biar fair..hahaha kaburrr
Comment by cempluk — May 20, 2008 @ 9:19 am
saya malah sering senyum sendiri menyaksikan mereka yang ngomong dengan volume tinggi dan tangan yang ikut pula mengacung ngacung. mau ikut senyum, atau mau cemberut???
Comment by unai — May 22, 2008 @ 1:12 pm
Some time before, I did need to buy a good car for my firm but I didn’t have enough cash and couldn’t buy something. Thank goodness my mother suggested to try to take the credit loans from trustworthy creditors. Therefore, I did so and used to be satisfied with my auto loan.
Comment by NOLAJackson — June 4, 2011 @ 5:48 pm