tarip pulsa makin murah akibat perang dari banyak operator. dampak buruknya bagi pelanggan adalah mengubah mereka lebih asosial.
di sebuah angkot pagi ini, "ini dengan bapak mangambas, sdsfsfsd… teriakan itu membahana ke sela-sela ketiak penumpang yang terangkat.
dari kursi belakang tak mau kalah. seorang ibu menelepon ke rumah, memastikan kompornya sudah mati. lainnya, berbual-bual yang aku kira membicarakan pekerjaan di pabriknya. tiba-tiba menelepon menjadi lebih penting daripada pesan yang disampaikan.
tanpa sadar, setiap orang akan melambungkan volume suaranya ketika berbicara via telepon.
mereka abai pada orang lain yang sedang melamun atau meneruskan tidur malamnya. ekspresi misuh, perintah represif diktatoral dan gaya-gayaan menye-menye tak penting itu tentu bisa saja meggeramkan mood penumpang lain.
mungkin mereka lupa, di dalam angkot in bukanlah ruang private. ada hak penumpang lain yang juga mesti dipikirkan. apakah perlu memperlakukan penelepon liar itu sama dengan perokok? meskipun hasilnya nyaris sia-sia juga?
tiba-tiba saya sadar, mungkin saya saja yang sok elitis namun kere abis!


