
"sesungguhnya telah ada pada diri mikael johani itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang sibuk bekerja dan selalu dikejar deadline setiap harinya."
tak percaya, simak penuturannya. dia adalah orang paling riang yang pernah ku temui dalam menghabiskan hari. jauh dari hingar bingar tekanan deadline dan keluhan yang biasa mendera urban jakarta. apalagi harus mengejar target tertentu.
namun dia tetap sibuk. ia selalu eksis, beredar dari satu kafe ke mal lain. andai kau bertemu di plasa indonesia, pasti tempat itu hanya tujuan antara. sehabis bertemu, ngobrol sebentar dengan temannya atau mungkin setelah menuliskan satu dua puisi, dia segera pergi lagi.
dulu memang sempat menjadi editor di majalah a + dan di metafor publishing, hanya sebentar. ia hengkang ke sebuah jurnal yang dianggapnya bisa merasa nyaman meski reward yang diterimanya sangat tak diharapkan. lebih rendah setengah dari tempat lama. kini sedang menerjemahkan jakarta: a history, susan abeyasekere.
buku yang sekarang telah menjadi klasik, dialog adalah judul buku hasil dari mengumpulkan tulisan umar khayam yang belum pernah di terbitkan di manapun.
sejak beberapa tahun lalu, dia bergabung di milis komunitas puisi buma (bunga matahari) yang dibuat oleh rekannya, anya rompas dan danar pramesti. jangan pernah bayangkan para penyair yang bergabung di komunitas tersebut kawanan orang-orang kusut yang matanya sembab kurang tidur sejak tiga hari. atau penampilan kumal tak pernah mandi karena sibuk mencari inspirasi.
bagi dia, semua orang bisa berpuisi. semua orang bisa menjadi penyair tanpa harus menjalani proses menggelandang seperti gembel. inspirasi datang kepada orang-orang yang mencarinya. meski semua pencari belum tentu juga akan menemukanya.
kepadanya jangan pernah tanya, puisi yang bagus itu seperti apa. dia tidak tahu.
"gue keliatannya ga bisa deh ngasih jawaban one liner yg catchy macam ‘poetry is whats missing after its translated’. atau apalah, gue sih suka kadang-kadang puisi lirik yang jujur ala sitor situmorang. tapi kadang-kadang gue juga suka puisi sutardji yg gak ngomong apa-apa tapi bunyi-bunyiannya lucu dan banyak permainan di dalamnya yang pintar tapi hampir ga ada ‘perasaannya’"
begitulah, mikael yang pernah mempelajari puisi yunani kuno di australi dan pengamat film itu akan sangat bersemangat membincangkan puisi.
"gue gak punya standar atau semacam checklist yang gue bawa ke mana-mana puisi yang keren harus begini begitu. justru gue pengen selalu dikejutkan oleh hal2 yg baru yang gue gak pernah tahu ternyata keren", ia menambahkan.
itulah salah satu alasan kenapa laki-laki yang menguasai bahasa jawa, indonesia, inggris dan perancis ini tak begitu bisa menikmati puisi yang terbit di koran mingguan yang "begitu-begitu" saja.
sebagai penyair, baru-baru ini diundang oleh komunitas utan kayu (tuk) untuk berbicara tentang sastra cyber. rupanya hal ini membuat orang-orang yang telah bermain lama di sastra cyber gerah. dituduh mengkudeta, ia cuek saja.
puisi-puisinya di simpan di blognya. aku paling suka yang judulnya toh tidak apa apa bukan hidup semakin lama semakin tidak berarti. penggalannya:
….
hidup semakin lama semakin tidak berarti
tanpa canda tawa yang dipertahankan
mati matian sepanjang hari—sepanjang malam
dan pagi pun—kata kata yang berusaha diledakkan
di angkasa di antara kita
selain itu hanya perjalanan pulang
di taksi, tarif lama, atau baru, apalah bedanya
langit jakarta yang ceria, kubikel kantor yang masih menyala
entah lembur, entah alpa dimatikan, apalah bedanya
itupun kadang kadang, hati masih menyalak
jangan pulang!, dan taksi pun dibelokkan
ke apartemen teman di jantung kota
….
)* foto: waraney herald rawung



