mungkin kau sudah sering melihat di channel national geographic seekor antelop yang tertatih belajar berjalan, namun dari rimbunan semak, cheetah menerkam lalu mencabiknya. induknya hanya bisa menguik menatap dari kejauhan.
tak lama lagi aku juga akan mengalami. perpisahan yang tak diharapkan, perpisahan yang dipaksakan. hanya karena lemah dan tak ada pilihan lain yang orang-orang menyebutnya sebagai proses alam.
membincangkannya mungkin tabu. tapi aku tetap harus mempersiapkan sebaik-baiknya. bukan dengan membeli kain mori sepanjang tujuh meter atau menggali liang kubur yang dindingnya dilapisi marmer dan mengisinya pasir.
pagi seperti ini, dia biasa duduk di teras menghadapi segelas teh manis dan beberapa sisir pisang rebus, klepon atau semangkok bubur yang isinya hanya beberapa sendok.
sengaja dia memilih menghadap ke timur karena ia ingin berjemur. namun sebenarnya ia ingin melihat sesekali orang yang lewat. raut mukanya tampak senang ketika ada yang menyapa dan tersenyum kepadanya.
beruntung kalau ada yang menghampiri, semangatnya menyala kembali. bicaranya berapi menceritakan kejayaan masa mudanya tanpa henti. usia yang menggerogotinya memaksa lawan bicaranya untuk selalu mengulang apa yang disampaikan lebih keras sampai putus asa.
satu-satunya cara terbaik yang bisa dilakukan adalah mengambil buku dan spidol, menuliskannya besar-besar dan menyodorkan kepadanya. baru dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
rutinitas itu telah ia lakukan setahun belakangan ini. kanker prostat yang memaksanya hanya bisa berada di sekeliling rumah. selalu sendirian karena semua anaknya pergi. hanya sesekali menengoknya.
ya hanya menengok saja. berbincang sebentar dan ditinggal pergi lagi. tak lebih akrab dan intim di banding berjumpa teman lama sd dulu. aku tak tahu kenapa bisa begitu.
aku telat, baru menyadari setelah aku pergi. seorang ayah kadang memang tak pernah mengatakan bagaimana menghadapi hidup. namun ia membiarkan ku melihat sendiri apa yang dia telah lakukan.
sayang aku tak bisa melambatkan laju gerak matahari. dan sampai sekarang pun aku tak tahu bagaimana memperlakukannya untuk mengisi sisa waktunya. kecuali mengingat, jumat paing besok adalah hari kelahirannya.

diajak ke bhi aja…biar bisa makan2
Comment by Hedi — May 8, 2008 @ 9:44 am
siapa itu Mas…? smoga diberi kesabaran deh.
aku jadi ingat Bapakku yang sudah 4 thn ini kena stroke. alhamdulillah Bliau punya semangat hidup yang tinggi. pengin kembali sehat seperti semula.
Comment by evi — May 8, 2008 @ 10:02 am
salam buat bapak ya mas.
Comment by balibul — May 8, 2008 @ 10:10 am
sengaja dia memilih menghadap ke timur karena ia ingin berjemur
waduh bung, dirimu menulis dgn level seorang penyair. keren abis
Comment by mumu — May 8, 2008 @ 10:13 am
ummmm….mudah2an perpisahannya tak terlalu menyakitkan
Comment by venus — May 8, 2008 @ 11:10 am
detik detik berlalu dalam hidup ini….
perlahan tapi pasti, menuju mati
tuh bait2 lagunya abah iwan yg aku sangat suka
Comment by wieda — May 8, 2008 @ 12:42 pm
live for the moment
semoga di masa-masa yang akan datang, kita akan belajar untuk melihat setiap pertemuan sebagai pertemuan yang terakhir kali. bahwa mungkin tak akan ada lain kali. no regrets
semoga.
Comment by hanny — May 8, 2008 @ 1:40 pm
sebenarnya pilih mana? yang siap atau yang tak siap menghadapi perpisahan seperti ini?
Comment by latree — May 8, 2008 @ 2:04 pm
.. pesta memang suatu waktu harus berakhir..
Comment by warmorning — May 8, 2008 @ 2:18 pm
Pas banget… Pas seperti tema blogmu, “Hidup yang singkat …” Kenapa tidak dirayakan? Secara fisik memang terpisah tapi tidak dengan spirit-nya. Kenangan akan selalu hidup.
Comment by ViE — May 8, 2008 @ 3:09 pm
i like your style of writing. Naratif deskriptif. Aku tidak tahu bagaimana istilah tepatnya. Lembut seperti kuas yang digoreskan di atas kanvas perlahan-lahan?
Kontras dengan momon yang argumentatif…
Comment by doc_wong — May 8, 2008 @ 5:59 pm
siap nggak siap ya harus siap tho, perpisahan tetep akan terjadi
Comment by kenny — May 8, 2008 @ 8:25 pm
jadi ingat lagi kalau aku juga musti bersiap juga
Comment by Totok Sugianto — May 8, 2008 @ 8:42 pm
sedih mas…
saya jadi ingat seorang teman yang bapaknya sama dengan bapakmu… sayangnya bapaknya udah dipanggil duluan…
selamat ulang tahun ya buat bapaknya
semoga sisa umurnya berkah.
Comment by Nisa — May 8, 2008 @ 9:06 pm
aku terbayang masa tuaku nanti, anak2 jauh…tiada perduli ..semoga saja tidak
Comment by unai — May 9, 2008 @ 8:56 am
well min, aku jadi inget ama [alm] ‘bebek’ ketemu terakhir di olala cafe ..sampe dikau nulis tentang aku .. [hmm]
Comment by omith — May 9, 2008 @ 1:07 pm
humm.. belum tentu juga beliau yang duluan tho mas? apapun masih bisa terjadi.
emang tiap orang harus mempersiapkan dirinya masing2..
Comment by nonadita — May 9, 2008 @ 4:38 pm
orangtua, tidak butuh harta ataupun kiriman bunga (uang) dari kita tiap harinya. dia hanya ingin melihat anak-anaknya sukses dan bahagia didalam mengarungi hidupnya. dan selalu berbakti kepadanya.
itulah yg aku alami kalo melihat anak-anakku.
Comment by yudhiapr — May 9, 2008 @ 5:38 pm
urip sakdermo ngelakoni
Comment by sluman slumun slamet — May 9, 2008 @ 9:33 pm
saya juga sudah merasakannya sejak kelas dua esempe…
Comment by ndop — May 10, 2008 @ 11:46 am
ya ampun tulisanmu bagus sekali ….
Comment by nadya — May 10, 2008 @ 10:46 pm
bapa mertuaku sedang ada dirumah mas..
aq ambil 2 minggu yang lalu ke purworejo kan…
dia sudah lemah tak segagah dulu…
dia harus digandeng..
dia harus selalu minum obat…
argh…..
Comment by elly.s — May 11, 2008 @ 5:53 pm
mumpung masih ada, seringlah menengoknya..
Comment by susan — May 12, 2008 @ 1:51 pm
jadi kangen papa
salam buat ayahnya..
semoga dikasih yang terbaik apapun jalanNya!
:D
yang kuat dan tabah yaaaa
Comment by natazya — May 12, 2008 @ 5:19 pm