pagi subuh laki-laki itu sudah meluncur ke pabrik dari rumahnya di pinggiran selatan jakarta. mengendarai mobil yang belum lunas cicilannya ia bersaing dengan laju jarum pendek jam yang finishnya di angka 8.

tiap hari, bulan dan tahun. nyaris seluruh hidupnya berada di tengah-tengah pekerjaan.

dia tak sendirian. sebagian besar urbanis mengalami. bekerja sepanjang hari dan malam untuk memenuhi parameter-parameter kebahagiaan sebagai simbol orang modern yang sukses.  

yang paling berperan dalam hal ini adalah media. dengan kekuatannya yang membombardir tanpa henti, menyusup sampai ke otak kanan dan menggiring mereka mengikuti apa yang dihembuskanya untuk mempunyai lebih dari satu mobil, semakin sering nongkrong di starbuck, dan menambah koleksi jam tangan mahalnya.

manusia hidup di atas bangunan opini. sebuah pendapat jika sudah di terima banyak orang, makin lama dianggap sebagai kebenaran. (1) padahal fakta yang sebenarnya mereka bekerja 16 jam sehari, dan yang di dapat hanyalah satu hari lebih tua dan makin banyak hutang. (2)

makin panjang saldo yang ia punya, makin dia merasa miskin. untuk memenuhi hasratnya, bahkan dengan sengaja memakai cara yang penuh keculasan dan kemarahan. bohong untuk hal-hal yang remeh temeh. dan sesekali mengeluh dan memaki baik hanya dalam hati, status di ym, postingan atau bahkan secara langsung.

laki-laki itu tampaknya salah dalam memahahami soal kebahagiaan. dianggapnya dengan menumpuk kekayaannya dia bisa membuat hidupnya bahagia dan nyaman. uang memang bisa membeli kesenangan inderawi tapi bukan kebahagiaan. dia bisa saja membeli ranjang mewah, namun tak bisa membeli rasa nyenyak.

padahal sejak dia bisa mendengar, suara-suara dari langit terus berbisik, ketika di toilet atau tempat pelacuran. "pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung namun diberikan makan oleh tuhan." (3)

ketika sampai di kota ini, banyak buku-buku suci yang menuliskan, "dan berapa banyak binatang yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri.  tuhanlah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu…(4)

suara-suara itu sama, melarang untuk tak perlu  khawatir, tak terlalu terikat pada kepemilikan. karena kebahagiaan itu tidak datang dari luar diri. kebahagiaan itu mindset yang bisa diciptakan sejak dari pikiran.

"apa yang dilihat itulah yang dirasakan. apa yang dirasakan itulah yang dipikirkan. apa yang dipikirkan itulah yang diinginkan. dan apa yang diinginkan itulah yang dilakukan."

pada satu titik tertentu, seharusnya bisa mentukan kapan telah merasa cukup. dengan merasa berkecukupan, kita akan semakin sedikit mengalami kekhawatiran. bukankah semakin tak punya apa-apa semakin tak merasa kehilangan?.

laki-laki menarik nafas, dalam. ia paham namun tak punya kekuatan untuk melawan. harapnya, ia ingin bisa menguasai dunia dan seluruh isinya. sampai ia menemukan tulisan penyair jerman, rainer maria rilke (1872-1926) : apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan. namun sesalilah dirimu karena tak cukup tabah untuk menggali kekayaanya.

(1) makna kematian, achmad chodjim
(2) be happy, sri dhammananda
(3) alkitab perjanjian baru , matius 6
(4) qs 29:60