dari jalan mahakam, tempat aku menyantap sepiring gultik (gulai tikus), plesetan untuk menyebut gulai tikungan, sayup terdengar dalang sri rahayu mengumandangkan suluk. 
 
suaranya bertabrakan dengan aba-aba pelatih capoeira, geremengan dan obrolan pengunjung ayam gantari yang tepat di sebelahnya. dalang perempuan yang sudah melanglang pentas di nairobi, kenya, hanoi dan swiss itu memulai aksinya.
 

hanya sedikit yang hirau. bisa jadi mereka tak tahu ada pementasan wayang. atau memang pertunjukan wayang kulit sekarang ini tak menarik. meskit tak ada yang membantah, wayang merupakan puncak pencapaian kreativitas pada masanya. 

dan ketika begitu banyak pilihan hiburan di gelontorkan, wayang ditinggalkan. apa salahnya? bukankah budaya masa dulu tak lebih baik dari budaya sekarang dan sebaliknya?

ketika aku masuk ruangan tampak simpingan, deretan wayang kulit yang  berdiri di atas gedebog di ujung kanan dan kiri, saling membelakangi. seorang dalang di tenganya, menghadap kelir.

hanya puluhan pengunjung saja yang khidmad mengarahkan matanya ke kelir yang cukup kecil untuk ukuran pentas wayang yang sebenarnya.

tentu saja, pementasan ini tak sampai semalam suntuk, di persingkat dua jam saja. dan aku pun tak sanggup untuk terus mengikuti. meski dalam waktu yang singkat itu ada juga acara goro-goro yang selalu di nantikan para penonton wayang (abal-abal).

sekedar mengenang romantisme masa bocah, langkah yang dilakukan warung apresiasi sangat menarik. pementasan wayang ini akan dilakukan rutin sebulan sekali pada hari kamis akhir bulan.

oh ya hari ini (25 april 2008) pukul 1900 akan ada launching majalah wayang. minat, silakan datang. 

*) fotografer: aku. yang punya kamera: mumu :)