masih ingatkah suasana nyaman yang masih bisa kau jangkau? ketika pertama kali melacur? sewaktu kau baru saja menerima approval bajet yang sudah kau mark up 500 persen atau …?

bukan. andai kau menanyakannya kepadaku, aku akan menjawab yakin: ketika pingsan.

pingsan itu seratus kali lebih enak  dari orgasme.  seribu kali lebih nyaman di banding tidur pulas kecapekan di sebuah cottage sehabis  setengah hari berenang di pantai anyer. aku sudah mengalaminya. saat itu kelas satu esde.

pada pagi yang masih berembun, entah kenapa aku tiba-tiba merasakan seperti mengantuk, tapi bukan. aku sadar penuh.  aku masih bisa melihat simbokku panik. dia langsung menelentangkan dan menelanjangiku. salah satu dari orang yang ikut  merubung mengerik dadaku.

namun aku tak merasakan sakit. tubuhku seolah seringan kapas. yang paling indah, ada perasaan damai. Saat itu belum ada selintas pikiran apakah inilah awal proses sebuah kematian.

semalam saya ingin mengulang momen itu. namun gagal. malam itu aku hanya bisa sampai pada tahap kepala berat, benda-benda tampak berpusing. perut serasa  ada mesin pemotong rumput yang bergerak di dalamnya.

terpaksa ke kamar mandi sepuluh kali dengan berjalan seperti anak satu tahun yang merayap berpegangan tembok.

menunggu pagi serasa menanti kenaikan gaji yang seratus persen. satu-satunya yang bisa aku lakukan dengan enggan adalah minum air putih bergelas-gelas. memakai sweater, celana panjang dan berkaos kaki. lalu meringkuk memeluk guling dan ke kamar mandi lagi.

aku tahu, perutku hanya berisi air, namun aku mengalah, mempersilakan mual-mual menguasaiku.  semua bebauan makanan menjadi asing. aku membuka payung dan  melangkah ke jalan depan, mencari bakpao isi kacang ijo. 

bentuk yang bulat dan putih, mengingatkanku pada seseorang perempuan.