aku mengenalnya beberapa tahun lalu, di sebuah kantin pabrik. di deretan meja panjang itu aku memelototinya tanpa sengaja. bukan pada orangnya, tapi pada piring yang di hadapannya. juga jari jari gembul yang memegang sendok.

saat itu aku menunggu menu yang aku pesan. mungkin karena aku ingin cepat makan saja, fokus mataku hanya kepada nasi dan setumpuk lauknya. hebat sekali perempuan ini. keyakinan yang sering aku dengar, gembrot tak selalu berhubungan dengan asupan makanan, berantakan.

"mas, liatnya kok gitu, gak sopan", katanya ketus. "kalau naksir ngomong langsung aja, teman yang lain menambahkan.

aku tak bermaksud meremehkannya. bukan. aku juga tahu konon big is beautiful. namun bukan karena bentuk fisik yang membuat aku agak mempertanyakan diriku sendiri. meski aku belum ke psikolog, aku yakin bukan pengidap oudipus complex.

"oh maaf mbak, saya lagi melamun kok. melihat peristiwa itu teman-temanku bercekikikan yang tertahan. kedua perempuan itu berlalu. dan semua kembali baik-baik saja.

sampai sorenya kira-kira pukul empat, perempuan itu mengulurkan tangannya di depanku. dia mengenalkan dirinya. rupanya ia yang akan mengurusi masalah kekaryawanan di sini. sambutanku cukup dingin dan datar. celetukan teman-teman di seklilingku bergemuruh.

tepat saat itu dia berada di depan layar televisi 24 inch. lewatlah iklan mobil toyota avanza yang seri gajah aja bisa masuk. makin meledaklahh tawa kami bersama. ia menyadari tempat baru ini tak menyambutnya riang.

sejak saat itu, aku menduga, dia diam-diam menyemai bibit permusuhan.

terbukti, dia membuat kebijakan-kebijakan yang kurang masuk akal. menegaskan jam kerja harus tepat waktu misalnya. juga mempersulit urusan buruh. salah seorang sedang apply kredit rumah.maksud teman saya itu meminta surat yang menjelaskan penghasilan totalnya. ia menolak.

"saya ini manager, saya berpikir secara konseptual", ia berang.

makin hari, hubungan kami makin memburuk.