hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyApril 23, 2008 5:59 pm

aku mengenalnya beberapa tahun lalu, di sebuah kantin pabrik. di deretan meja panjang itu aku memelototinya tanpa sengaja. bukan pada orangnya, tapi pada piring yang di hadapannya. juga jari jari gembul yang memegang sendok.

saat itu aku menunggu menu yang aku pesan. mungkin karena aku ingin cepat makan saja, fokus mataku hanya kepada nasi dan setumpuk lauknya. hebat sekali perempuan ini. keyakinan yang sering aku dengar, gembrot tak selalu berhubungan dengan asupan makanan, berantakan.

"mas, liatnya kok gitu, gak sopan", katanya ketus. "kalau naksir ngomong langsung aja, teman yang lain menambahkan.

aku tak bermaksud meremehkannya. bukan. aku juga tahu konon big is beautiful. namun bukan karena bentuk fisik yang membuat aku agak mempertanyakan diriku sendiri. meski aku belum ke psikolog, aku yakin bukan pengidap oudipus complex.

"oh maaf mbak, saya lagi melamun kok. melihat peristiwa itu teman-temanku bercekikikan yang tertahan. kedua perempuan itu berlalu. dan semua kembali baik-baik saja.

sampai sorenya kira-kira pukul empat, perempuan itu mengulurkan tangannya di depanku. dia mengenalkan dirinya. rupanya ia yang akan mengurusi masalah kekaryawanan di sini. sambutanku cukup dingin dan datar. celetukan teman-teman di seklilingku bergemuruh.

tepat saat itu dia berada di depan layar televisi 24 inch. lewatlah iklan mobil toyota avanza yang seri gajah aja bisa masuk. makin meledaklahh tawa kami bersama. ia menyadari tempat baru ini tak menyambutnya riang.

sejak saat itu, aku menduga, dia diam-diam menyemai bibit permusuhan.

terbukti, dia membuat kebijakan-kebijakan yang kurang masuk akal. menegaskan jam kerja harus tepat waktu misalnya. juga mempersulit urusan buruh. salah seorang sedang apply kredit rumah.maksud teman saya itu meminta surat yang menjelaskan penghasilan totalnya. ia menolak.

"saya ini manager, saya berpikir secara konseptual", ia berang.

makin hari, hubungan kami makin memburuk. 

cerita, fiksi 8:16 am

masih ingatkah suasana nyaman yang masih bisa kau jangkau? ketika pertama kali melacur? sewaktu kau baru saja menerima approval bajet yang sudah kau mark up 500 persen atau …?

bukan. andai kau menanyakannya kepadaku, aku akan menjawab yakin: ketika pingsan.

pingsan itu seratus kali lebih enak  dari orgasme.  seribu kali lebih nyaman di banding tidur pulas kecapekan di sebuah cottage sehabis  setengah hari berenang di pantai anyer. aku sudah mengalaminya. saat itu kelas satu esde.

pada pagi yang masih berembun, entah kenapa aku tiba-tiba merasakan seperti mengantuk, tapi bukan. aku sadar penuh.  aku masih bisa melihat simbokku panik. dia langsung menelentangkan dan menelanjangiku. salah satu dari orang yang ikut  merubung mengerik dadaku.

namun aku tak merasakan sakit. tubuhku seolah seringan kapas. yang paling indah, ada perasaan damai. Saat itu belum ada selintas pikiran apakah inilah awal proses sebuah kematian.

semalam saya ingin mengulang momen itu. namun gagal. malam itu aku hanya bisa sampai pada tahap kepala berat, benda-benda tampak berpusing. perut serasa  ada mesin pemotong rumput yang bergerak di dalamnya.

terpaksa ke kamar mandi sepuluh kali dengan berjalan seperti anak satu tahun yang merayap berpegangan tembok.

menunggu pagi serasa menanti kenaikan gaji yang seratus persen. satu-satunya yang bisa aku lakukan dengan enggan adalah minum air putih bergelas-gelas. memakai sweater, celana panjang dan berkaos kaki. lalu meringkuk memeluk guling dan ke kamar mandi lagi.

aku tahu, perutku hanya berisi air, namun aku mengalah, mempersilakan mual-mual menguasaiku.  semua bebauan makanan menjadi asing. aku membuka payung dan  melangkah ke jalan depan, mencari bakpao isi kacang ijo. 

bentuk yang bulat dan putih, mengingatkanku pada seseorang perempuan.