pertemuan tak sengaja di ruang resepsi. perempuan yang lama tak ada kabarnya itu datang dengan seseorang yang aku pikir pak dhe nya. agak terperangah saya mendengar dia mengenalkan.

pengalaman ini meyakinkanku, suami para perempuan itu lebih "jelek" dari pacar-pacarnya. kali ini selain lebih tua dan tambun, ia juga tak funky. tampak dari kemeja formal garis-garis dengan celana bahan dan sepatu hitam mengkilat.

di banding pacar-pacarnya dulu, laki-laki yang beruntung itu memang lebih settle. dari bisik-bisik yang aku dengar suaminya memimpin perusahaan multinasional. sepintas, hanya ini kelebihannya.

diam-diam aku berpikir. tentang cinta, perempuan ini tak ada "idealisme" sama sekali. kenapa ia memilih laki-laki itu menjadi suaminya. padahal dulu dia perempuan favorit para lelaki.  

mengutip mcndobos.com, itu  "mekanisma purba" saja.  ada keperluan untuk menjamin kelangsungan hidup keturunan.  pada hewan, bentuk fisik dan kekuatan yang menyebabkan betina mau dikawini. ujung-ujungnya sama, kelangsungan hidup keturunan".

baiklah, saya agak paham sekarang. ini bukan tentang salah  benar, baik buruk. dan juga bukan masalah cinta. memang dari "sana"nya naluri itu datang. yang dia lakukan mulia sekali: menyelamatkan kelangsungan kehidupan di bumi.

namun saat ini ketika perempuan sudah "sejajar" dengan laki-laki, kenapa naluri itu masih tetap dipelihara?