dua hari ini, tiap sore kau duduk dengan kaki kanan menekuk membentuk segitiga menghadap ke barat. gerak matamu mengikuti arah kepulan asap yang menaik, menyebar pelan lalu menghilang.
sesekali tangan kananmu bersandar di atas lutut, menutup bekas luka yang sedikit menyembul agak kehitaman. bekas luka ketika kau berusaha memeluk sosok yang sangat kau kenal. dan kau baru sadar, sosok itu hanya ada dalam anganmu.
kau mengedikkan puntung rokokmu, dilanjutkan menyesap capucino yang kau aliri air gula nyaris sepertiganya. "aku ingin manis ini bisa menggantikan waktu itu. tak apa sebentar saja, atau bahkan sia-sia".
"tak ada lagi bedanya."
kau telah membuat keputusan besar, di warung kopi yang nyaris tak ada pengunjung yang datang ini. (karena sebelum datang harus reservasi minimal dua hari). di ruangan itu, kau nampak seperti ikan koi yang terjebak di aquarium, sendiri.
namun kau tak menyesal. bahkan kau mengusir si empunya warung yang mencoba mengawali pembicaraan basa-basi. jangankan orang asing yang baru saja kau temui, teman-teman lama pun kau mencoba hindari. kau hapus nama-nama id di yahoo messanger, nomer telepon di hape, alamat email, friendster, dan facebook.
"aku tak nyaman mendengar mereka lagi", alasanmu. bahkan di blog pun, kau tak mengijinkan seorangpun memberi sepucuk komentar. meski diam-diam kau membuat blog baru dan tetap memencet tuts yang basah, karena tetes air mata yang tak sempat kau seka.
untuk menyempurnakan yang kau sebut kenikmatan itu, kau putar nocturnonya elegance of pachelbell berulang kali. kau menunggu malam, waktu kau bisa berlama-lama menatap bulan. sayang malam ini bulan tampak hanya tersamar.

walah…kandanono koncomu kuwi, berdamai ki bisa menerima dunia..nek ga bisa menerima dunia, ya bunuh diri saja..kan gitu to?
Comment by gus pitik — April 9, 2008 @ 4:09 pm
sopo kui Mas…? awakmu yo…?
Comment by evi — April 9, 2008 @ 4:11 pm
apapun kita hargailah pilihannya, walaupun itu (mungkin) salah
Comment by Hedi — April 9, 2008 @ 4:20 pm
sampaikan salam pada temanmu itu. bilang, kepadanya u are never walk alone.
Comment by juni — April 9, 2008 @ 5:30 pm
is it somebody I know? kalo ngeliat deskripsinya…..
hmmm….
Comment by venus — April 9, 2008 @ 6:22 pm
podho karo no. 4 ‘you’re never walk alone’
—jingkrak2 liverpool menang—
Comment by gambarpacul — April 9, 2008 @ 9:27 pm
his/her life, his/her choice….
absolute solitude…. berat juga ya… tapi mungkin bisa dipahami jika tau alasan dia melakukan itu apa…. bukannya semua balik ke alasan?
Comment by datum — April 9, 2008 @ 9:47 pm
cahaya bulan menerangi akika!
gaya bagus
Comment by adams — April 9, 2008 @ 10:50 pm
kurang menghargai hidup tuh
Comment by kenny — April 10, 2008 @ 8:23 am
salam aja deh buat temannya, yeah anda memang beda!
Comment by iway — April 10, 2008 @ 8:37 am
dunia semakin suram ya. betul?
Comment by bangsari — April 10, 2008 @ 9:10 am
kok podho melow2 toh ??
enek opo toh ?/
Comment by pinkina — April 10, 2008 @ 12:27 pm
sabar…sabar!
semua masih bisa diatur to?
Comment by Ndoro Seten — April 10, 2008 @ 3:03 pm
Puitis banget yahhh, hehehe…
saya mah gak bisa menggambarkan orang mo bunuh diri kayak gini, paling2 saya bilang…
“Apa?, loe mo bunuh diri, ke Ancol gih sana biar mayat loe dimakan hiu sekalian, Tapi kalo elo MASIH SAYANG sama diri loe sendiri, sini gue peluk,... Loe masih terlalu berharga untuk mati muda!”
Comment by silly — April 21, 2008 @ 8:27 am
Ehhh, ntar dulu… seprtinya saya menangkap makna yang salah… hahaha… silly
Comment by silly — April 21, 2008 @ 8:28 am