dua hari ini, tiap sore kau duduk dengan kaki kanan menekuk membentuk segitiga menghadap ke barat. gerak matamu mengikuti arah kepulan asap yang menaik, menyebar pelan lalu menghilang.
sesekali tangan kananmu bersandar di atas lutut, menutup bekas luka yang sedikit menyembul agak kehitaman. bekas luka ketika kau berusaha memeluk sosok yang sangat kau kenal. dan kau baru sadar, sosok itu hanya ada dalam anganmu.
kau mengedikkan puntung rokokmu, dilanjutkan menyesap capucino yang kau aliri air gula nyaris sepertiganya. "aku ingin manis ini bisa menggantikan waktu itu. tak apa sebentar saja, atau bahkan sia-sia".
"tak ada lagi bedanya."
kau telah membuat keputusan besar, di warung kopi yang nyaris tak ada pengunjung yang datang ini. (karena sebelum datang harus reservasi minimal dua hari). di ruangan itu, kau nampak seperti ikan koi yang terjebak di aquarium, sendiri.
namun kau tak menyesal. bahkan kau mengusir si empunya warung yang mencoba mengawali pembicaraan basa-basi. jangankan orang asing yang baru saja kau temui, teman-teman lama pun kau mencoba hindari. kau hapus nama-nama id di yahoo messanger, nomer telepon di hape, alamat email, friendster, dan facebook.
"aku tak nyaman mendengar mereka lagi", alasanmu. bahkan di blog pun, kau tak mengijinkan seorangpun memberi sepucuk komentar. meski diam-diam kau membuat blog baru dan tetap memencet tuts yang basah, karena tetes air mata yang tak sempat kau seka.
untuk menyempurnakan yang kau sebut kenikmatan itu, kau putar nocturnonya elegance of pachelbell berulang kali. kau menunggu malam, waktu kau bisa berlama-lama menatap bulan. sayang malam ini bulan tampak hanya tersamar.


