baiklah, akan aku ceritakan ruang rahasia penyimpan makian dan fitnah yang kini nyaris membludak. andai orang-orang sanggup memiliki hati seluas danau, aku hanya mempunyai sedalam septitank belakang rumah.
akankah aku akan menyimpannya di kepalan tangan atau ujung lidah paling depan? namun diperlukan berapa banyak, agar kepalan tangan itu tak meluncur ke mulut busuknya?
pertanyaan itu diam-diam mengeram di tempurung kepalaku. sore jam 17 yang hectic, hari jumat, deadline yang berbarengan dari dua project yang berbeda memaksaku terus memelototi layar monitor.
ting.., sebuah pesan masuk via ym, seorang supervisor dari divisi lain. tanpa pemanasan, ia memberondong makian yang tak putus. lho ini kenapa kok marah-marah tanpa kompromi, salah room kah dia?
bukan. dia baru saja mendapat laporan dari partnernya yang mengatakan ukuran desain yang dikerjakan salah. saya paham, partner dia itu salah. padahal laki-laki itu tak pernah tahu, karena belum ngecek apalagi berkomentar sepatah kata pun.
tentu saja aku melabrak, menanyakan kenapa bikin ulah lagi? dengan tak kalah sengit ia menuliskannya begini :
"lah…tadi ditanya kan…bener gak ukuran bannernya. kata sisssssi salah. gimana sih".
"kata sisssssi, bukan kata aku kan?
aku tak habis pikir, kenapa tak bisa membedakan antara aku dengan sisssi. apakah ia juga akan salah orang ketika bercinta dengan pasangannya
lalu ia melanjutkan, "lah pan situ yg ngukur… ??
"gak. aku gak bilang ukuran salah"
"ooo..ya maap deh…" jawabnya enteng
penyelesaian yang sangat sederhana dan mudah. namun andai di lakukan berulang, masihkah permintaan maaf itu bermakna?
dulu bahkan lebih parah, membunuh karakterku menjadi monster jahat yang mata duitan. tentu kalian sudah bisa menebak apa motivasi si partner itu mengumbar fitnah di depan petinggi pabrik sewaktu mengatakan, aku tak mau menyelesaikan pekerjaan, jika tak ada uang tambahan.
awalnya, tentu saja aku plonga-plongo sewaktu di konfirmasi atasan.
(*layak di lanjut ga ya ceritanya?


