duh apa yang salah pada masyarakat kita?. makin hari aku amati, makin bertebaran saja peminta-minta di jakarta. tentu saja tak peduli di mana tempat dan waktu, suasana dan mood sasaran.
sejak dari rumah (biasanya minggu aja, entah hari biasa), di jembatan penyeberangan, di dalam angkot, di kantin makan siang, di depan masjid, di warung kaki lima jam 12 malam pun mereka masih beroperasi.
anak-anak kecil masih ingusan telanjang kaki, remaja sok nge"punk", kakek-kakek berkaki satu, dan orang-orang setengah cacat lainnya. dari yang berpenampilan compang camping, sampai yang rapi berpeci.
ada yang langsung menadahkan tangan, ada yang menggunakan amplop di gunting menjadi dua, topi, bekas plastik permen, map dan proposal.
fenomena apa ini?
sebegitu tak sensitipnya kita, sehingga tak tahu ada tetangganya yang kelaparan, perlu dana untuk membangun masjid atau membiayai anak yatim? sehingga kaum papa itu mau tak mau harus bergerak agresif ke jalanan?
atau bisa jadi mereka hanya korban pemimpin kotanya yang cuek abis, meski undang-undang dan pasal mengaturnyanya dengan jelas?
oh bukan ternyata. saat ini pemerintah daerah jakarta telah membuat perda ketertiban umum yang melarang orang meminta-minta. jika melanggar kena sanksi 50 juta atau mengeram di penjara selama 6 bulan. baik si peminta-minta maupun para dermawan.
apakah pemerintah akan menampung, mengurus dan memberdayakan mereka? entah.
aku yakin perda itu tak akan mengubah sedikit pun suasana pengemisan di kota ini. seperti malam itu, di bunderan hotel indonesia. tampak beberapa anak pengemis berlarian ketika mobil petugas datang. "gembel kawakan kok takut trantip, komentar simbok penjual kopi.
atau memang mereka saja yang pemalas, tak mau kerja keras, berpeluk erat pada prinsip meminta itu lebih baik daripada menggarong, benar-benar tak punya akses untuk bisa mendapatkan uang?
"memang sudah semestinya di dunia ada yang kaya dan yang miskin untuk keseimbangan. semua itu berpasangan." baiklah, mungkin benar meski itu alasan pembenaran (yang malas).



peminta minta itu jauh lbh makmur drpd yg kita kira mas
Comment by aprikot — April 3, 2008 @ 3:21 pm
Aku pernah liat dipagi hari saat jalanan masih sepi, mereka di drop menggunakan mobil pick up. Mungkin di malam hari mereka dijemput pulang trus ngumpulin setoran.
Comment by mikow — April 3, 2008 @ 3:33 pm
kemarin sore saat nunggu jemputan di halte sebrang pabrik, tiba-tiba ada kenek bus yang memaksa kluar seorang anak kecil, lalu jatuh terduduk di trotoar dan selanjutnya menangis kencang, oh…ternyata seorang peminta-minta.
sikap orang-orang yg melihat cuek, termasuk saya.
ada juga yg mencoba menolong malah makin kencang tangisnya.
sebetulnya iba melihatnya, tapi bingung harus melakukan apa. entahlah…bagaimana akhirnya karena jemputan saya telah tiba.
Comment by evi — April 3, 2008 @ 4:10 pm
ngenes ya, yang kecil dikejar-kejar. Sementara yang atas ongkang-ongkang korupsi sampai milyar-an.
Comment by la mendol — April 3, 2008 @ 4:18 pm
“memang sudah semestinya di dunia ada yang kaya dan yang miskin untuk keseimbangan. semua itu berpasangan.”
setuju sekali. dan untuk itu agama mengajarkan untuk mengeluarkan zakat, infak atau whatever itu lah. tapi agama juga mengajarkan untuk tidak meminta-minta. konon, di akhirat nanti para peminta wajahnya menghitam. tapi di jakarta ini sapa peduli?
Comment by bangsari — April 3, 2008 @ 4:24 pm
aku sebenernya kasian sama mereka. sepertinya mereka ga dapet kesempatan untuk bisa mendapatkan hal yang lebih. mereka hanya berjuang untuk memperpanjang hidup…
tapi kok mereka mau mau aja ya ke kota, bukannya lebih enak tinggal di kampung halaman mereka sendiri?! setidaknya mereka nggak terlantar…
Comment by iphan — April 3, 2008 @ 4:59 pm
aku kok dadi kelingan toto sudarto bahtiar..”gadis peminta-minta”
Comment by gus pitik — April 3, 2008 @ 5:30 pm
Jadi, “Fakir Miskin dan Anak-Anak Terlantar” itu masih relevan gak ya?
Comment by mr.bambang — April 3, 2008 @ 5:50 pm
hmm…buah simalakama, ya…anak-anak itu diekploitasi oleh orang tuanya yg diekploitasi oleh keadaan….huhu kok jadi lagu lama ?
Comment by uwiuw — April 3, 2008 @ 6:07 pm
jangan-jangan kita, saya, dan anda2 semua juga peminta-minta. tapi dengan model lain..
Comment by yus aja — April 3, 2008 @ 6:47 pm
itu efek samping metropolitan mas, dan layaknya mengkonsumsi obat efek samping adalah sesuatu yang tak diharapkan
Comment by iway — April 3, 2008 @ 8:01 pm
jgn2 meminta minta skr menjadi salah satu karir pikirnya memang lebih baik dari pada mencuri kan.
miris klo liat perbedaan sini ama indonesia, selama 10th disini cuma liat peminta-minta dan gembel 1 orang aja.
Comment by kenny — April 3, 2008 @ 8:22 pm
yah, mungkin jika zakat bisa dimaksimalkan bisa jadi alternatif untuk menyeimbangkan si kaya dan si miskin
Comment by adams — April 3, 2008 @ 8:32 pm
sekarang ini makin sulit membedakan pengemis asli dan pengemis profesi…justru makin banyak yg profesi, mas
Comment by Hedi — April 3, 2008 @ 9:59 pm
to some extent sih saya setuju perda itu
tapi buat yang pengemis beneran gimana ya?
Comment by wennyaulia — April 3, 2008 @ 10:06 pm
kalau saya lebih baik tidak memberi para pengemis yang seger buger!
Comment by sluman slumun slamet — April 3, 2008 @ 10:41 pm
wah….
ada loh peminta-minta yang punye hengpong
Comment by quelopi — April 3, 2008 @ 10:47 pm
seharusnya memang jangan dibiyarkan berkliyaran, buwat apa undang-undang dibuwat mentereng gitu kalok nggak ada reyalisasinya?
Comment by titov — April 4, 2008 @ 5:53 am
klo saya kira mereka juga sebenarnya ga mau hidup seperti itu Mas. klo disuruh milih ngemis atau kerja, mereka pasti lebih memilih kerja yg lebih baik Mas. Nah sekarang yg jadi pertanyaan ada ga kesempatan itu buat mereka atau ada ga yang memberi kesempatan kepada mereka?
Itu baru peminta-minta Mas, gimana klo pengamen? apa mereka juga bisa digolongkan sebagai “Orang-orang pemalas” juga?
Comment by daniel — April 4, 2008 @ 7:55 am
Sunnatullah .. ada yang kaya dan miskin ada yang jahat dan baik …. jadi jika ada para petinggi kita punya visimisi mengentaskan dan membrantas kemiskinan .. itu kebohongan Besar. Setidaknya adalah dengan mengurangi kemiskinan ….
Mari memancing Rezeki dariNYA dengan banyak memberi sedekah / infaq .. karena lebih baik memberi kepada orang yang butuh dan tidak meminta ..
CMIIW
Comment by rgesit — April 4, 2008 @ 9:15 am
sebetulnya mereka masih bisa mencari pekerjaan yang layak,namun kebanyakan mereka lebih memilih sebagai peminta minta.
bekerja seperti itu juga membuat risih pemandangan di kota,,walaupun sudah banyak yang diberi pembinaan masih juga kembali bekerja seperti itu
Comment by wisnu — April 4, 2008 @ 10:07 am
masih banyk yg memprihatinkan d sekitar kita
*ngelus jenggot
Comment by detnot — April 4, 2008 @ 10:11 am
tempat saya, di Surabaya, ada peminta-minta yang selalu duduk di pintu keluar Ubaya (Universitas Surabaya) termasuk salah satu perguruan tinggi swasta elit, mau tahu nggak anaknya di FKU (Fak. Kedokteran Umum) Unair (universitas Airlangga)
mau tahu anaknya…..
“ngemis juga”
Comment by xo — April 4, 2008 @ 10:11 am
nang Walikukun Ngawi… ada pengemis yang punya sapi 6….
Comment by nurussadad — April 4, 2008 @ 2:43 pm
dan layakkah kita mengendus ‘siapa suruh datang jakarta’..??
Comment by tehaha — April 4, 2008 @ 3:51 pm
Lho, mereka meminta-minta itu buat mbayar denda yang 50 juta ituh, mas..
Comment by Nazieb — April 4, 2008 @ 4:45 pm
plg males sama pengemis segar bugar yg ngerokok
Comment by funkshit — April 5, 2008 @ 1:01 pm
Kemarin saya shock…
Melihat pengemis nenek2, tidur di pinggir jalan, tapi ngerokok… Wah wah wah…
Comment by Charles — April 7, 2008 @ 3:27 pm
jahatnya saya, kadang saya malah cuek sama mereka..abis kadang sebel sih. Cowok, masih muda, kok nggendong anak kecil, minta2..aduhh..
Comment by stey — April 8, 2008 @ 7:54 pm