memang ada? bukankah sejak tk kita hanya diajari cuci tangan dan berdoa sebelum makan, harus duduk manis, tak boleh mengunyah terburu-buru sampai sepiring nasi habis agar nasinya tak nangis.
(kalau nangis, nanti air matanya akan membuat kita kebanjiran, tak bisa menanam. kelaparan deh kita.)
saya juga baru tahu ternyata cara makanku yang biasa itu tak sepenuhnya benar. dr muhammad ali toha assegaf, dokter yang telah empat tahun tak mengkonsumsi obat-obatan berbahan kimia itu menuturkan.
melalui bukunya smart healing, ia mengingatkan pembacanya untuk mengubah perilaku makan yang mungkin selama ini kurang di perhatikan. cuci tangan misalnya, sebaiknya di air yang mengalir, bukan hanya membasahi tangan di di air kobokan.
sebelum makan, minumlah air putih tawar. (andai minum air es, pakailah sedotan, agar air tak langsung mengguyur gigi. andai makan di warung, ambilah sedotan yang masih terbungkus plastik supaya terhindar dari sedotan bekas pakai. selesai minum, sedotan plastik itu buatlah simpul mati.)
sebelum memulai menu utama. makanlah buah yang menenangkan pencernaan misalnya semangka atau timun. lalu makanlah secukupnya sesuai kadar kelaparan kita.
pastikan mengunyah makanan sampai hancur menjadi bubur sehingga tak perlu minum di tengah-tengah makan. sebaiknya minum air di lakukan 20 menit setelah makan.
tak perlu tergiur es campur yang berwarna merah lagi. cukup mengisi perut kita dengan 30 persen makanan, 30 persen lagi air dan selebihnya biarkan udara yang mengisinya.


