dua hari ini, teman-teman sibuk bergerombol di ruang miting besar. mereka sedang membahas pengisian formulir pajak. aku sejak awal tak acuh. meski pajak penghasilan itu di bayar oleh pabrik.
entah apa resikonya tak memiliki nomor pokok wajib pajak. aku tak tahu dan tak mau tahu. biarlah toh aku pikir pajak itu hanya untuk orang-orang yang punya duit. dan aku tak pernah bercita-cita punya duit banyak.
konon duit hanya menjadikan kita sebagai satpam yang 24 jam harus menjaganya. keinginanku sederhana, bisa melakukan apa yang aku ingini. itu saja sudah lebih dari cukup. sangat sederhana bukan?
rupanya teman-temanku itu warga negara yang baik banget. nyaris satu jam mereka mendengarkan ceramah pak pajak dengan takzim, tanpa ditemani makanan super ringan pun. kali ini, penjelasannya tentang pajak penghasilan yang besarannya 5 sampai entah berapa persen.
terharu saya melihat ketaatan wajib pajak yang dengan khusuk mengikuti acara. rela pulang lebih malam dengan kompensasi entah apa. jadi warga negara pembayar terbaik kelak?
aku akan memilih menjadi warga negara terburuk saja. emangnya bisa? bisa saja. apa susahnya. ngga malu? malu apa? tak membayar pajak memang cukup buruk tapi tak perlu lah sampai malu.
ironis. di sana, para pejabat sibuk korupsi. di pabrik-pabrik kecil, buruhnya sibuk belajar mengisi form pajak dengan benar.
aku jadi teringat ketika bertamu ke tempat teman yang berumah di pamulang, reni jaya tepatnya. rumah dia dan deretan di samping kiri kanannya minimalis. artinya belum ada renovasi, masih asli dari pengembang. di depannya ada satu rumah yang kontras, bertingkat dan bagus.
saya langsung tanya, itu tetanggamu kerja di pajak ya? iya jawabnya.

lho sampeyan pasti dah bayar pajak akan, tiap bulan langsung dipotong pabrik tempat kerja, kalo makan di resto kena pajak, beli buku, nonton film
yang diributin temen-temen sampeyan itu pelaporannya kali
Comment by iway — March 31, 2008 @ 3:17 pm
Walah, ga ngisi to? Ga takut dikejar2 bagian keuangan? “mana formulirnya? udah diisi blum?” hehehhe…
Comment by Epi — March 31, 2008 @ 3:20 pm
pajak = kaum paPA di inJAK..
Comment by shemut — March 31, 2008 @ 3:29 pm
untuk tulisanmu yg terakhir, no comment
hahaha…..
Comment by evi — March 31, 2008 @ 3:34 pm
kita masih bayar pajak kok, mas. nggak ada yg gratis…
Comment by Hedi — March 31, 2008 @ 4:21 pm
Money is a good slave, but a bad master
Comment by Nazieb — March 31, 2008 @ 4:45 pm
orang pintar byr pajak. berarti nek ora byr pajek dudu wong pinter hekeke…
Comment by Anang — March 31, 2008 @ 5:06 pm
kalo ga mau bayar pajak, ya jangan protes terhadap pelayanan publik, begitu bukan??
Comment by gus pitik — March 31, 2008 @ 5:20 pm
Suka tidak Suka, Pajak khan suatu bentuk hak negara untuk memungut. Sudah ada dari jaman dahulu kala.
Jadi pointnya bukan untuk apa kita membayar pajak, tapi sampai kapan kita harus membayar pajak..
Comment by iman brotoseno — March 31, 2008 @ 7:34 pm
tiap beli pulsa aku mbayar pajek
Comment by Luthfi — March 31, 2008 @ 9:41 pm
ane dah wajib bayar pajak belum ya?
mahasiswa nan lugu..
Comment by nurussadad — April 1, 2008 @ 12:15 pm
hehehe…. bener di pabrik ku juga sama tuh heboh, bahkan sampai kemarin siang. Untung, formulirku blm sampai, jd pelaporannya thn depan sajah…
Comment by susan — April 1, 2008 @ 12:35 pm
mas kw kan rajin beli buku brati rajin pulak bayar pajak
Comment by kenny — April 1, 2008 @ 1:15 pm
orang pintar bayar pajak. tapi lebih pintar lagi kalau menyiasati pajak.
Comment by yus aja — April 1, 2008 @ 2:08 pm
gue pernah bayar pajak nggak yah? au ah
Comment by quelopi — April 1, 2008 @ 9:46 pm
Beli sabun bayar pajak, beli pulsa bayar pajak, bayar listrik bayar pajak, bayar air bayar pajak, walah…..yo pantes sing mbok tulis neng paragraf terakhir kuwi…
Comment by gambarpacul — April 1, 2008 @ 10:44 pm
hihihi..jadi teringat Ibliz saya yang dulu yang juga kerja di pajak, setiap tahun bisa aja dia ganti2 mobil. Kenapa stereotipenya kudu gitu yah?
Comment by stey — April 8, 2008 @ 8:09 pm