bepergian tetap menjadi pilihan menarik sebagian besar penghuni kota ini di hari libur panjang kemarin. tampak dari begitu banyaknya saya memencet tuts menerima panggilan.
ceria mereka bercerita. merasa menjadi pemenang setelah mengalahkan kepenatan kerja yang brutal. tak penting tempat tujuan, ke pulau seucang, ujung kulon atau ke kaimana. yang lebih penting adalah perjalanan itu sendiri.
sehingga kelak tidak akan tiba-tiba merasa tua dan tak pernah kemana-mana. dengan melakukan perjalanan kita lebih bisa menerima ketuaan dengan rela. telah begitu banyak kampung dan kota di jelajahi. memuaskan keinginan terdalam yang entah kapan habisnya.
salah satu teman ketika sampai di ponorogo menemukan perkampungan yang seluruh warganya menjual sate ayam. uniknya semua memakai nama belakang ‘sobikun’. slamet sobikun, nandar sobikun. namun yang paling rame warung milik tukri sobikun.
sebagian memilih pulang kampung. di kota yang cukup sombong ini, mereka merasa tak punya ikatan. tak ada /belum ada kerabat keluarga yang meninggal dan di kubur disini. bahkan ada saja yang memaksakan diri.
"kerja itu tak ada habisnya mas. kalau senang itu kan gak bisa di tunda", katanya.
entah kenapa pertemuan selalu lebih menarik. tertawa mereka menyambutnya. bercengkerama, bercanda dan membincangkan masa lalu yang tak terlupakan.
namun hanya sebentar. hari ini, semua kembali ke kebiasaan harian. bersetebuh dengan kota yang diam-diam tak di harapkan namun tak bisa benar-benar di tinggalkan.


