masih ada arum manis di jakarta
laki-laki bertopi yang memikul ringan dua kaleng warna merah marun seragam sd itu melintas di depan kost. agak serak ia berterteriak menawarkan jualanya, jajanan yang jarang bisa aku nikmati semasa sekolah berpuluh tahun lalu.
rasanya yang sangat manis, kontras dengan pengalaman sekolah saya dulu. entah kenapa sekolah menjadi satu-satunya institusi yang paling dipercaya setiap orang tua agar anaknya lebih pintar dan punya masa depan yang gemilang.
celakanya saya cepat bosan dan bermalas-malasan mengikuti pelajaran. namun di setiap ulangan menperoleh nilai bagus. saya sadar betul bukan anak pintar. rahasianya, cukup memperhatikan apa saja yang sering di tekankan pak guru ketika menerangkan materi.
kasian sekali sebenarnya pak guru itu. dia hanya menerapkan apa yang ada di kurikulum. model belajar dengan cara menghapal tak jauh berbeda dengan memberikan makanan yang telah dikunyahnya kepada murid-muridnya. menjijikkan bukan?
apalagi model pengukuran prestasi dilakukan dengan ulangan. ya hanya mengulang pelajaran yang pernah kita dengar. kata gede prama, sistem seperti itu mereduksi kemampuan otak manusia serendah mesin fotokopi. kata saya, itu merendahkan Tuhan.
pernah ketika ulangan yang hanya memberi tanda silang pada jawaban yang benar, tanpa membaca apalagi berpikir saya menyelesaikannya dalam waktu tak kurang dari sepuluh menit. hasilnya, saya masih beruntung mendapat nilai 3.
saya tetap naik kelas. toh kalau dipikir-pikir tak ada gunanya untuk tak menaikkan. buat apa? tentu hal yang sangat menyedihkan kalau alasan nilainya merah pada pelajaran tertentu.
keputusan itu tak sebanding dengan resiko yang harus di terima murid. bayangkan gara-gara tak suka pelajaran sejarah, bahasa daerah dan ketrampilan murid dipaksa memelotiti terus menerus selama setahun adegan yang mirip sinetron kejar tayang.
terhadap pelajaran sejarah yang harus menghapal silsilah raja-raja saya kelimpungan. puncaknya sehabis pelajaran olah raga, sengaja beramai-ramai membanjiri lantai. tentu saja papan tulis yang berwarna hijau tosca itu belepotan lumuran air bercampur kapur.
pak guru sejarah ngamuk, merasa dilecehkan. saya merasa bersalah dan kasihan.
namun saya tak kapok. kali ini dengan guru kesenian yang cukup tua dan berkacamata tebal. karena jiwa seni saya tumpul, saya selalu meminjam gambaran teman lain yang sudah dinilai. caranya dengan mengubah tanda tangan dan nilai pak guru itu menjadi pohon atau batu dengan warna cat air yang lebih gelap. tipu daya selalu sukses selama setahun itu.
tak heran andai hasilnya saya menjadi seperti sekarang. namun saya tak menyesal. saya kunyah arum manis itu pelan. masih terasa lembut dan manis.


