fatwa yang mungki keseribu satu kudengar lagi sore ini dari seberang jauh, cepatlah bersemenda.
telah banyak manifesto pengantin baru yang mengadar di telinga saya perkara pengalamannya sebagai keluarga baru. menikah itu menggirangkan, menikah itu enaknya 20 persen, 80 persen enak sekali.
yang menyatakan pernikahan itu menyeramkan tak kalah banyak. namun mereka menyimpannya sendiri, rapat-rapat. kecuali fiksi yang sering menggambarkannya. atau kantor polisi andai sampai keperkelahian fisik.
dan di warung buncit sambil menikmati kepulan asap putih arif shodig, produser program news global teve menambah perbendaharaan referensiku mengenai pernikahan.
yang ia rasakan setelah sebulan menikah hanyalah ia sekarang bisa makan lebih teratur. bangun pagi, makanan sudah disiapin, malamnya pun juga begitu. lainnya, ia lebih sering menghadiri acara seremonial. berbasa basi dengan keluarga besar.
alasan-alasan yang belum cukup kuat menyeret seseorang untuk menyegerakan menikah. bahkan teman lain saya lebih memilih tak punya pacar (tetap) saja.
kenapa banyak orang lebih suka meributkan sosok lajang daripada sebuah keluarga yang anaknya tak terurus? benar andai ada yang berpikir, setiap orang itu harus mengikuti kodratnya lahir-sekolah-kerja-menikah-mati. tak adakah pilihan lain?



sing penting nggitik, dan kamu akan bahagia
ra perduli nikah opo ora…kuwi fatwaku..
Comment by gus pitik — February 27, 2008 @ 4:08 pm
wah gus pitik sesat itu, jangan diikuti
pokoke jatuh cinta itu endangggggggggggggg
Comment by iway — February 27, 2008 @ 4:16 pm
nikah adalah kebahagiaan tak terkira untuk wanita, dan penderitaan tak berkesudahan untuk cowok.
Comment by bangsari — February 27, 2008 @ 4:21 pm
dan menikah itu adalah salah satunya untuk mengokohkan tiang agama, kalo gak salah loh mas..
Comment by Parta — February 27, 2008 @ 6:34 pm
menikah ?? ahh biasa saja
Comment by pinkina — February 27, 2008 @ 6:54 pm
menikah???? mumet memang bagi laki2 berarti tanggung jawab yg besar…tapi banyak enaknya juga…...apalagi punya anak yag lagi lucu2nya…
Comment by Pacul — February 27, 2008 @ 7:23 pm
Py pendirianmu untuk terus melajang wes goyah rung?
Kawin po nikah? hehe gojek lo
Comment by Dony — February 27, 2008 @ 8:29 pm
Menikah itu enak lho,
Comment by BlogDokter — February 27, 2008 @ 8:36 pm
selalu ada pilihan lain…
menikah sebelum terlambat
Comment by iman brotoseno — February 28, 2008 @ 1:28 am
Kawin sek, nikah urusan mburi
Comment by -=«GoenRock®»=- — February 28, 2008 @ 3:59 am
hahaha, iya nih ke’nya dah mulai goyah pendirian nya utk melajang terus, Kebanyakan co yg dah nikah emang trus gemuk soale kopen
Comment by kenny — February 28, 2008 @ 5:21 am
yang pasti…....dengan menikah itu hidup jadi lebih hidup…....hlo, malah iklan….
Comment by jeng endang — February 28, 2008 @ 7:54 am
aq isih suwe… kuliah lagi satu semester…
tapi siap2 awit saiki tho?
Comment by nurussadad — February 28, 2008 @ 10:28 am
tentang pernikahan, bisa dibilang itu adalah kebiasaan, jadi untuk menghentikan orang-orang mencemooh pilihan untuk melajang sptnya sangat sulit. tetapi tidak memilihpun adalah sbeuah pilihan.
Comment by dewi — February 28, 2008 @ 10:39 am
wong sing gak gelem kawin eh nikah kui jarene coward.
trus pertanyaane, gimana sampeyan menyalurkan kebutuhan biologis? kawin tok gak mau nikah? kan pengecut namanya. (lho kok aku emosi)
Comment by de — February 28, 2008 @ 11:04 am
menikah,,
memang tak semudah yang dibayangkan kayaknya..
tapi menjadi sesuatu yang paling penting dalam fase hidup kita..
mo nikah ya mas..??
Comment by tehaha — February 28, 2008 @ 11:30 am
sependapat budhe dena.
nikah itu enak loh….
Comment by evi — February 28, 2008 @ 12:47 pm
Ahh… Yg jelas saya pingin mengalami yg namanya pernikahan…
Comment by adit-nya niez — February 28, 2008 @ 1:21 pm
setujuuuuuuuu
!
tp mungkin yg saya ingin garis bawahi, manusia butuh ditemani, dan hidup sendiri itu sangat sepi bung!
Comment by mitra w — February 28, 2008 @ 11:32 pm
witing tresno jalaran soko kulino
karena terbiasa akhirnya malah cinta..nyambung???mboh…
Comment by mei — March 4, 2008 @ 7:52 am