fatwa yang mungki keseribu satu kudengar lagi sore ini dari seberang jauh, cepatlah bersemenda.

telah banyak manifesto pengantin baru yang mengadar di telinga saya perkara pengalamannya sebagai keluarga baru. menikah itu menggirangkan, menikah itu enaknya 20 persen,  80 persen enak sekali.

yang menyatakan  pernikahan itu menyeramkan tak kalah banyak.  namun mereka menyimpannya sendiri, rapat-rapat. kecuali fiksi yang sering menggambarkannya. atau kantor polisi andai sampai keperkelahian fisik.

dan di warung buncit sambil menikmati kepulan asap putih arif shodig, produser program news global teve menambah perbendaharaan referensiku mengenai pernikahan.

yang ia rasakan setelah sebulan menikah hanyalah ia sekarang bisa makan lebih teratur. bangun pagi, makanan sudah disiapin, malamnya pun juga begitu. lainnya, ia lebih sering menghadiri acara seremonial. berbasa basi dengan keluarga besar.

alasan-alasan yang belum cukup kuat menyeret seseorang untuk menyegerakan menikah. bahkan teman lain saya lebih memilih tak punya pacar (tetap) saja. 

kenapa banyak orang lebih suka meributkan sosok lajang daripada sebuah keluarga yang anaknya tak terurus? benar andai ada yang berpikir, setiap orang itu harus mengikuti kodratnya lahir-sekolah-kerja-menikah-mati. tak adakah pilihan lain?