di kampung, peristiwa turun hujan sungguh menarik. di setiap rintiknya mengandung harapan. karena saat itu para petani mulai melempar benih. tiga bulan kedepan dia akan memanen biji-biji yang telah di taburkan di tanahnya.
rintik hujan adalah kesejukan. rumput-rumput disependek pematang mulai tampak hijau. pucuk-pucuk tunas muncul pada pohon-pohon jati yang sebelumnya meranggas. dan bunyi garengpung (cicada) berkumandang di pagi yang menjelang siang.
di sini, hujan berubah menjadi teror, kalau bukan kutukan. apalagi turunnya senin pagi pukul 06:00. semua rencana hari ini bubar. perasaan malas bertambah. jalanan macet, waktu perjalanan ke pabrik dua kali lebih lama.
waktu pulang kerja pun lebih malam. tak ayal, tubuh menjadi lebih capek, daya tahan menurun. virus-virus lebih gencar mengincar, lengah sedikit bisa tepar. ( belum lagi banjir, nyamuk-nyamuk aides egypti yang siap menghisap, karena nyamuk tak punya gigi dst dst)
agar terhindar, mungkin ini waktunya makan dengan benar, protein dan sayur yang cukup. kalau perlu menambah porsi. andai masih kurang yakin, bisa menambah makan vitamin c, atau makanan suplemen lain.
jangan mau lembur, konon menurut pakar manajemen (aku lupa) para buruh yang lembur itu hanya tak bisa memanaj waktu kerja aja. kecuali memang terpaksa sekali.
kesehataan itu mahal. lebih mahal dari seluruh aset yang dimiliki pabrik tempat kita bekerja.



hujan di jakarta bukan menaburkan kesejukan…
malah memperparah kondisi jalanan yang memang udah parah..
hmm..butuh semangat ekstra untuk melawan kekuatan ‘sang hujan’
Comment by tehaha — February 18, 2008 @ 12:03 pm
bukan ujannya yang salah. Tapi kotanya. satu dari sejuta alasan kenapa aku ndak mau kuliah dan tinggal di Jakarta.
Comment by iphan — February 18, 2008 @ 12:58 pm
harus makin sabar yo mas….memang hujan dan gelap dinginnya, bikin kita harus cari suasana baru…..
Comment by jeng endang — February 18, 2008 @ 1:02 pm
nasib kuli
iseh sering lembur tanpa gaji
Comment by Luthfi — February 18, 2008 @ 1:14 pm
garengpung? dah lama ga denger suaranya
Comment by iway — February 18, 2008 @ 1:30 pm
Yoi Mas….rasane males banget mo berangkat nyambut gawe, kalo nuruti kata hati mending tarik slimut merem lagi.
tapi….. dan sejuta tapi yang lain terpaksa harus nymbut gawe juga
Comment by evi — February 18, 2008 @ 2:50 pm
hujaaan… love rain…
ketika titik2 hujan itu menyentuh muka… salah satu saat di mana aku merasa hidup
anyway… ironis juga ya… negeri agraris akhirnya terancam oleh hujan..
Comment by datum — February 18, 2008 @ 3:03 pm
berarti aku wes mengikuti anjuran para pakar yha
aku ra tau lembur kok
Comment by pinkina — February 18, 2008 @ 3:54 pm
mungkin harus lebih sabar mas.., anggap hujan ini suatu berkah.., buat tukang ojeng payungkan jadi berkah mas..
Comment by Parta — February 18, 2008 @ 3:55 pm
baru mulai kuliah, masih bisa gak lembur, klo dh mulai praktikum, mulai deh lembur..
Comment by nurussadad — February 18, 2008 @ 5:07 pm
betul..orang miskin dilarang sakit
Comment by yus aja — February 18, 2008 @ 5:22 pm
Hujan, kayaknya enak dilihat dan diromantiskan daripada dialami…
Comment by ian — February 18, 2008 @ 5:50 pm
Iyah, di sini angin semilir yang di kampung sangat nikmat, apalagi setelah lari-lari ngejar layangan itu, juga membawa penyakit..
Comment by Nazieb — February 18, 2008 @ 7:14 pm
wah.. mas, sampean menambah koleksi alasan saya, kenapa saya menolak kerja lembur!
Comment by peyek — February 18, 2008 @ 7:33 pm
wah ini ngomporin biar gak pada lembur nih
disini masih cerah terus cuma klo sore angin mulai kenceng.
memang paling gak enak pagi2 mo mulai aktivitas dibarengi ama hujan, tapi aku gak ngaruh ding wong dirumah aja paling dibolosin aja kwek2ku yg TK :D
Comment by kenny — February 18, 2008 @ 10:55 pm
sesungguhnya apa-apa yg datang dari Maha Pencipta itu adalah berkah bagi orang-orang yang mengerti dan memahami.
.::he509x™::.
Comment by MaNongAn — February 18, 2008 @ 11:36 pm
Hujan turun lagii yaa. Hujan di Jakarta bikin banjir.. Hujan bisa jadi anugrah sekaligus musibah.. sabar..sabar…
Comment by sarah — February 19, 2008 @ 1:47 am
aku kok seneng yo nek udan isuk2 :d
Comment by de — February 19, 2008 @ 8:47 am
makanya,cepet punya bini..biar ada yg ngurus…
!
salah fokus
Comment by escoret — February 19, 2008 @ 3:56 pm
nggak mungkin menyebut hujan sebagai kutukan. sebagai warga kota hujan, saya gak rela. hiks! nglindur
Comment by mpokb — February 19, 2008 @ 4:06 pm
Nda apa apa..Hujan kan anugrah.! Buat penganten baru, biar cepet dapet momongan.
Comment by Ajay — February 19, 2008 @ 7:59 pm
lah nek ngumpul terus, kapan udane???
sambil menyisir trotoar pinggir BHI di jumat malam yang basah pulang kantor nggarap lemburan
Comment by ipungmbuh sh — February 19, 2008 @ 10:56 pm