busway kayaknya mau mengulang kegagalan bus patas dulu. betapa tidak, bus yang tujuan mulanya mengurangi macet jalanan jakarta itu sampai kini makin parah payahnya.

para pemobil yang diharap tertarik menumpang busway ke kantor tentu saja melirikpun tidak. harga tiketnya nyaris dua kali tarif  metromini/kopaja. namun tak ada kenyamanan sama sekali yang diperoleh penumpang.

jalur khususnya yang mengenyahkan trotoar dengan menebang pepohonan itu sering dimasuki kendaraan lain. apalagi pada jam sibuk. mobil pribadi, angkutan umum, motor , pejalan kaki dan penyepeda saling berebut masuk.

dan pak polisi mempersilakan dengan melambaikan tangannya. sehingga bisa bia naik kopaja lebih cepat sampai dibanding naik busway. belum lagi antrinya yang lama.

bulan juni tahun lalu, konon koridor vi ragunan-halimun busnya memang masih terbatas. nyaris per 30 menit sekali. tapi waktu itu saya memaklumi. janji yang kudengar, tiga bulan lagi akan ada penambahan sehinggu waktu tunggu lebih cepat.

seperti janji kampanye sampai sekarang tak ada perubahan sama sekali. jika kalian pada jam pulang/ berangkat kerja di halte halimun kalian tak ubahnya ayam-ayam dalam keranjang di atas truk. penuh sesak. bahkan lebih, karena di ruang tunggu itu kini mirip sarang penyamun yang tak ada sirkulasi udaranya.

sore itu, saya baru saja dari pameran buku di senayan. sambil nunggu bus, berdiri di kerumunan yang pengap itu saya sukses membaca novel sampai halaman 30. baru bus datang, sayang saya tak terangkut. harus nunggu giliran berikutnya.

keringat tentu saja meleleh sampai kerah baju. kaki pegal. namun tak perlu kuatir jatuh, karena bisa saling nyender dengan orang yang ngantri di belakang atau sampingnya.

tentang sopirnya, tertulis di komplain beberapa surat pembaca, mereka ugal-ugalan. ada yang mempertanyakan apakah perekrutannya asal-asalan?

bahkann di halte warung jati, kau akan di tuduh tidak sopan oleh penjaganya andai kau tak mengucapkan terimakasih ketika menerima tiket, menyerahkan tiket dengan tangan kiri atau ….aduh lainnya saya lupa. ( ada enam atau tujuh baris)

rentetan tuduhan itu saya baca di sebuah kertas yang tertempel di salah satu sisi dindingnya.