minggu, jam 17:50. suara-suara bergentayangan menyelinap sampai ke kamar kost di rumah jl butet, batas cileduk.
kok lebih dari 5 arah mata angin asal suara-suara itu? oh ternyata ini kampung pesantren. orang-orang mempersiapkan persembahyangan. saya baru sadar, belum ada hukum yang mengatur keberisikan suara.
andai tabrakan antar suara itu tampak mata, pasti lebih mirip suasana kerusuhan mei 98 silam. banyak korban bergeletakan, namun semua diam. tak ada yang berani menyuarakan.
lho, bukankah mendengarkan ayat-ayat suci itu di sarankan? tentu saja, kalau lagi mood dan suara itu tak berseliweran macam mobil di perempatan lampu merah yang padam.
lha kalau seperti di senja ini? pilihan mana yang terbaik di perdengarkan? yang dari arah selatan, barat atau yang speakernya paling keras?
dan apakah orang-orang di sekitarnya saat itu memang memerlukan suara-suara itu? saya sendiri sedang membahas urusan yang seriusnya melebihi bab surga dan neraka.
saya jadi teringat, pada jaman majapahit dulu (kalau gak salah), seorang sudra yang sengaja mendengarkan pembacaan lontar suci, kupingnya di siram cairan baja panas.



kok gak ditegur aja mas?? itu kan termasuk pelanggaran hak asasi manusia..:D
Comment by cempluk — February 3, 2008 @ 9:04 pm
Mungkin mereka memang sedang berlomba.
Comment by danalingga — February 3, 2008 @ 9:19 pm
ini suara2 apa dulu? kalau suara adzan kan memang harus ada sebagai pertanda telah memasuki waktu maghrib…
Comment by Asma — February 3, 2008 @ 9:51 pm
Bingung mo milih yg mana…
Comment by adit-nya niez — February 3, 2008 @ 10:38 pm
hhmmmmmm . . . . ga jadi . . . . dah orgasme..
eh . . ejakulasi ding . .
Comment by ebeSS — February 3, 2008 @ 11:57 pm
tiap jam 4 aku kebangun karena ada orang ngomong lewat pengeras suara, nyuruh bangun dan melakukan ibadah…
Comment by mei — February 4, 2008 @ 8:08 am
lha kok ga mampir, mas?
rumah saya ga jauh dari situ
Comment by caplang[dot]net — February 4, 2008 @ 8:30 am
yup kalo adzan untuk pertanda waktu masuk sholat….
Comment by Anang — February 4, 2008 @ 10:36 am
hahahah….kontrakanku diantara masjid dan mushola. sakben isuk podo banter2an moco Al Qur’an, sighh emangnya untuk didengar Gusti Allah harus kenceng2an yha ???
Comment by pinkina — February 4, 2008 @ 10:51 am
berani menegur mas?
Comment by aprikot — February 4, 2008 @ 11:34 am
katanya udah ada mas perda DKI tentang itu..
,di forum.detik.com ]
..
.. ya itukan juga hak mereka untuk bertradisi [mungkin]..
pernah ta` baca di forum, pembatasan tingkat suara [kira2 begitu deh
tapi ya tau aja deh mas, kalo ditegor (didiskusikan) ntar tersinggung, syukur2 ga dibilang kafir
Menurut gw sih, kalo ga mau denger , ya pasang headphone..
gw emang ga se`ajaran` ama mereka, pas kebetulan didepan kos gw ada musholla, kalo gw lg ga mood, biasanya gw pergi ketempat lain, sekalian mmbuat `mood`
Comment by pengamen — February 4, 2008 @ 11:38 am
Kalau adzan, saya tetep setuju karena itu memang untuk panggilan beribadah. Tapi kalau mau membangunkan orang sahur pas bulan ramadzan dengan suara yang sangat gaduh. Saya juga ga suka.
Comment by mr.bambang — February 4, 2008 @ 4:17 pm
tuhannya lagi sakit kuping ya
Comment by iway — February 4, 2008 @ 4:44 pm
Ini memang problematika…kalau suaranya merdu syahdu pelan siapa sih yang tidak tergetar, tapi kalau teriak teriak, belum plus anak kecil uji coba bisa emosi dah..
Comment by iman brotoseno — February 4, 2008 @ 5:44 pm
itulah ‘islam’, bukan NU-loh ya.. hahaha
Comment by evan — February 5, 2008 @ 11:54 am