minggu, jam 17:50. suara-suara bergentayangan menyelinap sampai ke kamar kost di rumah jl butet, batas cileduk.
kok lebih dari 5 arah mata angin asal suara-suara itu? oh ternyata ini kampung pesantren. orang-orang mempersiapkan persembahyangan. saya baru sadar, belum ada hukum yang mengatur keberisikan suara.
andai tabrakan antar suara itu tampak mata, pasti lebih mirip suasana kerusuhan mei 98 silam. banyak korban bergeletakan, namun semua diam. tak ada yang berani menyuarakan.
lho, bukankah mendengarkan ayat-ayat suci itu di sarankan? tentu saja, kalau lagi mood dan suara itu tak berseliweran macam mobil di perempatan lampu merah yang padam.
lha kalau seperti di senja ini? pilihan mana yang terbaik di perdengarkan? yang dari arah selatan, barat atau yang speakernya paling keras?
dan apakah orang-orang di sekitarnya saat itu memang memerlukan suara-suara itu? saya sendiri sedang membahas urusan yang seriusnya melebihi bab surga dan neraka.
saya jadi teringat, pada jaman majapahit dulu (kalau gak salah), seorang sudra yang sengaja mendengarkan pembacaan lontar suci, kupingnya di siram cairan baja panas.


