baru saja hujan setengah hari, jalan thamrin-sudriman terendam sepaha. bandara tutup total, jumatan libur sementara, makan siang tertunda dan redaktur makin kreatip membuat judul sebombastis mungkin.

biasanya, hujan reda setelah imlek. andai kebiasaan tahun lalu itu juga terjadi sekarang ini, jakarta tenggelam.. jakarta tenggelam… bukan lagi slogan iklan.

saya membayangkan, hujan 7 hari itu akan melengangkan jalanan jakarta. dari atas, jalanan itu berubah menjadi sungai. rumah-rumah di pinggir kali menghilang. namun hiruk pikuk terjadi di masjid, pinggiran rel dan balai rakyat.

orang-orang menjadi lebih bijak, mendonorkan mie kering, nasi bungkus dan bahan makanan kering lain. ( kalau pabrik menyumbang, barang-barang itu nyaris expired, masa berlakunya tinggal dua-tiga hari).

jakarta bebas sayuran selama itu, pasokan dari bogor dan daerah pinggiran lain macet. angkotan tak beroperasi. pak sopir dan keneknya lebih memilih berhandai-handai dengan anak bungsunya.

namun ini masa panen penyedia jasa pencucian mobil dan motor. antrian panjang dari subuh. bahkan ada yang sengaja buka 24 jam. begitu juga gerobak sampah yang berubah menjadi gerobak penyeberang.

kesempatan baik ini juga tak disia-siakan para pemilik pabrik di daerah jakarta utara untuk membuang limbahnya. mumpung momentnya tepat.

pasar hyper, warung, toko sembako di serbu anak-anak kost dan ibu-ibu. tujuan mereka hanya satu berebut membeli lilin sebanyak mungkin. jakarta gelap.

lalu kira-kira apa rencana kalian selama seminggu itu?