novel ini mirip autobiography. plotnya linear, maju terus. penulisnya, pak muhammad sobary yang kolomnis itu memulai kisahnya di sebuah stasiun.

dramatis, bocah yang belum pernah bepergian jatuh itu terpaksa sendirian ke jakarta. melihat itu ibunya pingsan.

beda sekali dengan apa yang aku alami. aku pergi ke jakarta karena di"usir" sama simboku. boro-boro ada linangan air mata. namun kata-kata tegas seperti ini: tak ada yang bisa kau lakukan di sini, pergilah.

dalam perantauan, hanya nasib yang membedakan. bocah kecil itu diam-diam menggenggam erat sebuah cita-cita yang tak diketahui kedua orang tuanya.

sampai pada suatu waktu tulisan dia bertebaran di media, sibuk seminar dan undangan lain.

lalu di percaya menjadi petinggi di sebuah company.dari seorang ilmuwan, ia masuk ke kandang birokrat. ia cukup shock menghadapi orang-orang yang gencar mempertahankan status quo. selain ia makin sering menghadapi banyak pertemuan, dialog, rapat.

selain itu dia juga harus menerima tamu-tamu yang membahashal hal sepele: minta tolong naik pangkat, minta supaya di mutasike divisi yang lebih nyaman dan minta minta yang lain.

keheranannya makin memuncak ketika melihat temanya yang menjadi wakil rakyat. teman yang belum pernah terjun riil ke masyarakat, memperjuangkan haknya yang tertindas, apalagi memikirkan negara yang ruwet, apa yang ada di benaknya, tanyanya

di kota ini, ia merasa jadi musafir. perjalanan selanjutnya silakan membacanya sendiri.

begitulah, penyampaian curhat pak sobary begitu gamblang. saya sendiri lebih suka membaca kolomnya yang fenomenal : kang sedjo melihat Tuhan.

judul sang musafir
penulis: mohamad sobary
penerbit gramedia
tebal: 265

buku yang lain