"eh kamu tuh masih percaya agama-agama itu ngga?" telah dua orang yang meragukan ke"agamaan" saya. tak salah benar mereka berpersepsi demikian.

dari perbincangan, tulisan, bacaan dan pertanyaan saya sebelumnya yang mungkin menyeret mereka pada kesimpulan: saya sesat. minimal tak beragama.

apalagi tampak luar, saya jauh dari kesan orang beragama, apalagi beriman. saya suka mekakai kaos oblong, bukan baju koko atau kemeja sopan lainnya. boros bahan celana, karena panjangnya melebihi panjang kaki.

muka, jelas-jelas klimis, tak miara jenggot. meskipun tak mirip stalin, lenin atau mark
juga. tak punya peci, enggan memakai kafiyeh yang lagi trend di kalangan remaja.

pada setiap kata yang terucap tak pernah terlontar ekspresi yang mengindikasikan menguasai ilmu agama, sebentar-sebentar masyaAlaah, Allahu akbar, subbhanalah.

saya suka mendengar lagu sajadah panjangnya bimbo, kadang juga josh groban yang menyuarakan holy night. dan mengucapkan selamat hari ke semua: natal, nyepi, atau waisak.

teman kerja baru, bahkan sangat jengkel melihat ketersesatanku. via ym maupun di waktu makan siang, dia berbicara sampai berbusa-busa meyakinkanku, untuk tak bimbang menempuh jalan yang benar.

saya mendengarkan takzim. meskipun tak ada yang "baru". sama, seperti yang sudah saya dengar di teve, khutbah jumat atau ustad-ustad yang lagi ceramah.

puncaknya, dia akan mentraktir buku tafsir al misbah tulisan Prof. dr. m quraish shihab yang 15 jilid itu.