sewaktu tk, semua bocah itu harus memakai sepatu hitam kaos kaki putih. duduk manis di kelas, melipat siku mendengarkan bu guru yang tak cantik itu. belajar menggambar dua gunung yang ada matahari di tengahnya.
pulang, melewati jalan sempit yang di kanan dan kirinya berjongkok orang dewasa. bocah-bocah itu mesti menyapa sopan, kalau perlu menundukkan tubuh kalau tak ingin dicap kurang ajar.
di jakarta raya ini, yang konon berpenghuni cerdik cendekia nan rasionalis justru kebiasaan itu makin menjadi-jadi. di sekeliling, lihatlah. sampai kini tak terdengar seorang buruh yang berani memaki bosnya. kalau ia tak ingin mati.
setiap pagi, ketika kumemasuki pabrik ini, tak sekalipun pak satpam peduli. lain ketika para petinggi berdasi itu yang melewati, gubrakkkkkkkk! dia berdiri tegak, mengangkat tangan kanan mirip upacara tujuh belasan. (sumpah ini aku lihat sendiri)
di mal, jangan pernah berharap akan di sapa mbaknya ketika kau berambut kusut, sandal japit kumal berkulit dekil. namun dia dengan cekatan mengendus-enduskan setengah terbuka teteknya ke om-om yang buncit perutnya.
celakanya kebanyakan orang merasa nyaman memperoleh perlakuan itu, sampai tergila-gila. kenapa tak bisa bersikap sama dengan orang lain yang beda keadaannya? hanya karena melihat dunia lebih lama? hanya karena lebih panjang digit saldonya?
entahlah, sampai sekarang aku belum mendapatkan jawabnya.



ajining diri soko lathi..
ajining raga soko busono..
aji mas said soko ngendi?
Comment by pitik — January 21, 2008 @ 5:51 pm
lebih sewot lg klo lht perlakuan mba2 CS itu ke expatriat duch kek raja sahaja mereka
tp ada untungnya juga klo ngurus apa2 barengan sama mas sipit jd dpt perlakuan istimewa
Comment by aprikot — January 21, 2008 @ 6:19 pm
abis ngga bakal dapet untung apa2 dari menyapa orang bersandal jepit rambut kusut baju kumal kaya sampeyan ini. . heheh
Comment by funkshit — January 21, 2008 @ 6:21 pm
iya, kadang2 satpam2 juga suka aneh, kalo bermobil aja trus pasang sikap hormat, padahal mobil pinjeman =)) hehehehe
Comment by ojat — January 21, 2008 @ 7:04 pm
itulah indonesia…..
Comment by pacul — January 21, 2008 @ 9:22 pm
itu salah satu tanda kalau kiamat sudah dekat…
mendekatkan diri ke Tuha masing2 aja lah…
Comment by icha — January 21, 2008 @ 9:39 pm
tapi satpam di pabrik tmpt saya nguli baik-baik loh….
jadi ga ramah gitu.
ga peduli jalan kaki, naik ojek, naik taksi atau bermobil pasti menyapa sambil senyum selamat pagi, siang atau sore. jadi kalo kitanya diam aja malu deh….
itu satpam gajinya kurang kaleee….
Comment by evi — January 22, 2008 @ 7:35 am
aku nang mall kr nang kantor podo ae, sendal jepitan thok
sering ditegur kr satpam’e, tp cuekkk aja….penampilan bukan segalanya huehuehue
Comment by pinkina — January 22, 2008 @ 8:15 am
dipabrik tempatku kerja, kalo mau hari raya semua satpam memangilku bos
Comment by mikow — January 22, 2008 @ 8:41 am
satpam tempatku juga baik baik orangnya, kadang risih juga di hormati sama mereka..wong gajinya juga sama sama standart kuli khok =)
Comment by mei — January 22, 2008 @ 9:16 am
Uang memang bisa berbicara…
Comment by adit-nya niez — January 22, 2008 @ 10:41 am
mau nang bank jukuk duwit, durung adus klambine sak2e,,, e ra di gagas karo kasire… Gemblung
Comment by nurussadad — January 22, 2008 @ 10:44 am
nah itu juga yang jadi pertanyaan saya selama ini. bahkan situasinya lebih aneh.
Kenapa kalau saya mengenakan high heel, mbak2 itu jadi lebih ramah pada saya, daripada kalau saya make sendal jepit? Padahal bajunya sama2 aja lho… hahahaha
tapi akhirnya saya baru sadar. its about attitude. gimana cara kita bersikap aja. Kalao kita bersikap seperti orang kaya, agak sedikit sombong, dagu diangkat keatas seperti sedang ngeliat cicek ribut, lalu bicara lebih tegas dengan nada yang tajam dan menekan, biasanya mbak2 itu jadi lebih ramah.
Jadi kesimpulannya, mbak2 itu memang cenderung suka diperbudak (baca diperlakukan seperti budak). Maaf, tapi kenyataan. Mereka berpikir, orang sombong, bossy dan belagu itu pasti orang kaya. dan orang kaya harus dilayani dengan baik. Hahahaha lucu, lucu…
Jadi saya mencoba, dengan mengenakan sendal jepit, celana pendek, kaos kucel dan rambut kuncir, lalu saya bersikap seperti diatas.
Berhasil… berhasil… berhasil…!!
VOILAAA
Comment by eve — January 22, 2008 @ 10:46 am
makanya boss gw yg expart itu gayanya udah sok banget kayak dia yg punya negara ini..huh
Comment by stey — January 22, 2008 @ 11:54 am
bahasa inggrisnya :`hepeng do na mangatur negaraon`..
[duit yang mengatur negara ini]..
ada duit bisa MENGATUR semuanya:
presiden, dpr, artis, seniman,
pengusaha, penguasa, PEREMPUAN, apalagi
orang miskin..
itulah perwujudan individu yang ga punya
harga diri… pelacur!..
tapi ga semua lho!.. ada yang ga [berharap masih banyak]
Comment by pengamen — January 22, 2008 @ 2:55 pm
itu terjadi di semua pelosok di muka bumi ini, tak hanya di Indonesia.. manusiawi banget deh kayaknya mas…
Comment by susan — January 22, 2008 @ 4:36 pm
jangan mau kalah lek… pd saat kita masuk mol tunjukan saja yang kita “punya”...
mis : setumpuk uang, CC yg gold..
Comment by shemut — January 22, 2008 @ 6:31 pm
money talks i guess…. berharap kecipratan sesuatu yang akan menambah tebal saku dia… walopun belum tentu uang dan belum tentu saat itu juga
menjilat? yeah… itu juga mungkin…. :p
Comment by datum — January 22, 2008 @ 11:32 pm
pssst.. setiap orang punya penderitaannya masing2. bersyukurlah mereka yg tidak perlu menjilat
Comment by mpokb — January 23, 2008 @ 6:31 pm