sewaktu tk, semua bocah itu harus memakai sepatu hitam kaos kaki putih. duduk manis di kelas, melipat siku mendengarkan bu guru yang tak cantik itu. belajar menggambar dua gunung yang ada matahari di tengahnya.

pulang, melewati jalan sempit yang di kanan dan kirinya berjongkok orang dewasa. bocah-bocah itu mesti menyapa sopan, kalau perlu menundukkan tubuh kalau tak ingin dicap kurang ajar.

di jakarta raya ini, yang konon berpenghuni cerdik cendekia nan rasionalis justru kebiasaan itu makin menjadi-jadi. di sekeliling, lihatlah. sampai kini tak terdengar seorang buruh yang berani memaki bosnya. kalau ia tak ingin mati.

setiap pagi, ketika kumemasuki pabrik ini, tak sekalipun pak satpam peduli. lain ketika para petinggi berdasi itu yang melewati, gubrakkkkkkkk! dia berdiri tegak, mengangkat tangan kanan mirip upacara tujuh belasan. (sumpah ini aku lihat sendiri)

di mal, jangan pernah berharap akan di sapa mbaknya ketika kau berambut kusut, sandal japit kumal berkulit dekil. namun dia dengan cekatan mengendus-enduskan setengah terbuka teteknya ke om-om yang buncit perutnya.

celakanya kebanyakan orang merasa nyaman memperoleh perlakuan itu, sampai tergila-gila. kenapa tak bisa bersikap sama dengan orang lain yang beda keadaannya? hanya karena melihat dunia lebih lama? hanya karena lebih panjang digit saldonya?

entahlah, sampai sekarang aku belum mendapatkan jawabnya.