siang itu teman sepabrik ngajak ke pasar, ke kios buku bekas. kebetulan yang menyenangkan. harapku bisa nemu buku-buku keren yang harganya murah.
oh ya dia menjinjing kitab sucinya: komik naruto. berjalanlah kami berdua, sesekali saya tanya. dia menjawab dengan tetap menatap komiknya.
di dalam busway, di kios buku bekas, ia tak mengajaku berbincang. sibuk dengan perasaan dan imajinasinya sendiri. sampai selesai, ia tak juga menemukan satu pun buku yang ia cari.
sampai di food court, ia tetap lebih memilih memelototi komik. bukan menikmati menu baso kuah beningnya. aku mencoba diam, sengaja sangat demonstratip.
dan dia tak merespon.
seolah berlomba, di meja sebelah segerombolan abege yang berjumlah lima orang juga tak ada suaranya. jari-jari mereka sibuk memencet tuts hp. mereka lebih nyaman main game.
teman itu kadang membosankan, kadang menyenangkan. mungkin perlu mencari moment yang pas agar tak terjadi kemacetan komunikasi sehingga perbincangan menjadi menceriakan.
bisa jadi, saat itu mereka itu tak benar-benar sedang membutuhkan teman?


