pagi, mata masih merem. jerit telepon memaksaku melepaskan pelukan (guling). suara dari seberang menyampaikan kabar buruk. persawahan sepanjang pinggir kali lumat. tertutup lumpur coklat.
memang tak sedahyat tayangan di tipi-tipi. tak ada longsor, korban meninggal. namun banjir karena hujan semalaman itu akan menyisakan sesak. minimal selama empat bulan. lek pardi dan pak dhe tarno harus mengulang dari awal lagi menanam. mestinya dua bulan lagi menuai hasil.
pastinya mereka tak percaya lagi peribahasa siapa menanam akan menuai. para petani itu harus menyiapkan bibit lagi. membuat petak-petak sawah kecil untuk tempat pembibitan.
sawah yang kini berubah lumpur itu kini harus dibajak ulang. untung traktor sudah masuk ke kampung yang sinyal teleponnya sering ilang-ilang itu. ketika bibit itu berusia sebulan, baru bisa di pindahkan ( ditanam) ke sawah yang sebenarnya.
seperti itu, adalah waktu yang sangat tepat untuk memancing belut. sangat mudah. hanya mengandalkan cacing tanah yang dikaitkan ke mata pancing, belut-belut itu mudah sekali terjebak. sesorean bisa memperoleh 15 sampai 20 tubuh belut.
sebulan kemudian, tanaman padi yang mulai menghijau itu harus dipupuk dengan urea dan tsp. para pedagang lebih dulu panen. mereka sepakat menaikkan harga sesukanya. dan petani tak berkutik, tak punya pilihan lain ketika tak punya uang untuk membeli kes.
konon banjir ini terbesar kedua setelah 30 tahun lalu. mungkin karena memang hujan yang deras, tak adanya pohon di hulu atau sebab lain. jembatan yang menghubungkan persawahan dengan kampung itu kini putus.
untuk mencapai ke kampung lain, terpaksa memakai getek. baru mendengar frasa ini sekali? baiklah getek adalah rangkaian banyak bambu yang dirakit, diikat dengan tali sehingga permukaanya bisa dinaikin. para penduduk, pisang, kambing bersama-sama menyeberang.
persis seperti dalam film-film kolosal tahun 80an macam tutur tinular. aku pernah mengalaminya. namun bukan sebagai ksatria perkasa penakluk buayanya, hanya sebagai penduduk biasa saja.
penghiburannya, seharian kemarin itu, anak-anak, remaja dan orang tua bersama meringsek menuju ke pinggiran kali. memunguti ikan-ikan yang bergeleparan terjebak di air yang terus menyusut.
*foto: yoke



miris ya…liat berita-berita di tivi dan baca koran.
smoga semua bencana ini cepat berlalu.
Comment by evi — December 27, 2007 @ 12:25 pm
yah, Ngawi juga banjir, tapi rumah Ortuq gak kena
karena termasuk dataran Tinggi, tapi di kecamatan Sine katanya ada tanah lonsor
Comment by nurussadad — December 27, 2007 @ 12:31 pm
mediun yo banjir ki….
Comment by pitik — December 27, 2007 @ 12:44 pm
ini pasti gara-gara gerimis mengundang ehehehe…. hujan seperti pisau yang memiliki dua sisi…. sisi suka bagi tanah kering kerontang yang bisa diolah para petani dan duka bagi masyarakat yang menderita akibat bencana…...
Comment by Anang — December 27, 2007 @ 1:07 pm
trenggalek yo banjir ki…
Comment by Anang — December 27, 2007 @ 1:09 pm
Aku juga menerima kabar buruk itu, mas
Comment by Bening — December 27, 2007 @ 1:42 pm
kabar yang sama kudapatkan semalam. separo tanaman padi yang baru sekali hendak disiangi, habis ditelan air. tiada guna kerja kerjas dan semua biaya yang ditanggung sebelumnya. benih yang baru bisa ditanam setelah 35 hari ditebar, urea yang didapatkan dengan mengutang, pematang yang harus dibuat lagi. hilang sudah asa mengadakan hajatan di awal panen nanti.
mereka menjadi lembek karenanya? tidak, kawan! petani adalah manusia paling tangguh dalam sejarah. banjir tak kan mampu mengalahkan mereka.
Comment by bangsari — December 27, 2007 @ 1:57 pm
ah, sedih banget. banjir di mana-mana. duh….
Comment by venus — December 27, 2007 @ 2:06 pm
semoga cepet surut deh..
Comment by mikow — December 27, 2007 @ 4:47 pm
malang yo keno banjir longsor mas.. untungnya masih agak jauh dari desa tempat tinggalku
Comment by Totoks — December 27, 2007 @ 5:29 pm
pertama, wah gambar sawah itu bikin sueger!
kedua, sedih mas kalo baca beginian,
mudah-mudahan cepet membaik mas!
Comment by peyek — December 27, 2007 @ 5:38 pm
ya.ya inikah negeri tanah bencana?
Comment by iman brotoseno — December 27, 2007 @ 7:28 pm
SBY suruh turun dulu, dia punya janji sehingga bencana dan perang saudara terus muncul…
Comment by Hedi — December 27, 2007 @ 11:16 pm
bencana masih akrab dgn kita…
semoga kita tabah…
Allah mengasihi org2 yg sabar
Comment by elly.s — December 28, 2007 @ 12:01 am
Bencana khan slalu datang apabila manusia tidak mau mengerti akan hukum alam. Semoga kita lebih arif serta bijak kepada alam ini.
Comment by ono — December 28, 2007 @ 12:02 am
sidoarjo juga banjir…lumpur (eh udah basi ya?)
Comment by de — December 28, 2007 @ 5:34 am
lho potonya manaaaaaa??????????
!
pasang lagi
:P
Comment by de — December 28, 2007 @ 5:35 am
tanya kenapa?
Comment by iway — December 28, 2007 @ 7:29 am
sedih sayah baca2 koran da nonton tipi,,isinya nestapa seputar banjir semua,,semoga warga negara indonesia bisa turut serta dalam proses stop global warming…
Comment by ika — December 28, 2007 @ 8:29 am
Alam butuh keseimbangan…Tuhan menciptakan dunia ini pasti sudah dipertimbangkan dengan masak2, pasti Tuhan juga gak merencanakan buat ngasih musibah2 kayak gini buat umatNya…mungkin ya itu tadi..keseimbangan yang seharusnya dijaga sudah ilang blas…jadi ya jangan menyalahkan siapa2 kalo terjadi bencana kayak gini, tanya pada diri kita sendiri….
Comment by Tukang Nggunem — December 29, 2007 @ 4:44 pm
ikut prihatin
Comment by pacul — December 29, 2007 @ 8:00 pm