sir mbilung: pakar burung penyuka buntil
siapa yang tak kenal sosok blogger ini, pasti kurang gaul. keselebannya melegenda, setidaknya pada setiap ingatan para blogger yang pernah kopdaran atau berbincang dengannya.
pertama kali bertemu di citos, kopdaranku pertama yang dikomandoi simbok venus. namanya rudyanto atau lebih beken dipanggil sir mbilung merupakan pribadi ramah, terbuka, hangat dan menyenangkan. makanya ada yang dengan bisik-bisik rela menjadi isteri ketiganya ( ha ha ini becanda aja )
.
bisa jadi ini disebabka beliaunya yang terlalu lama "kelayaban" di rimba-rimba belantara asia? tentu saja bukan. profesinya sebagai peneliti burung, mengharuskannya menyusuri habitat burung-burung yang kian langka.
bersama beberapa peneliti seasia ia menerbitkan sebuah buku referensi yang berjudul threatened birds of asia . dia satu-satunya orang indonesia yang ikut menyusun spesies burung yang terancam punah. sebelumnya ada tiga temannya namun dua lainnya gugur dalam tugas.
sebegitu mengerikannya kah medannya? tidak. ia hanya harus berkeliling dari museum ke museum di eropa. burung-burung indonesia spesimennya banyak terdapat di inggris, belanda, italy, perancis dan jerman. karena pengumpulan specimen terbesar pada jaman kolonial.
"awalnya memang mengasyikan, namun lama-lama “gendheng” juga. sangat capek mas. seringnya pengelolaan museum itu sangat buruk. harus bongkar-bongkar sendiri. ada yang salah dilabeli, ada yang salah tempat. dan indonesia termasuk itu".
setelah data-data di dapat, barulah ia melakukan pengamatan ke hutan untuk memverifikasi. “memang ada citra satelit tapi namanya hutan indonesia sangat cepat berubahnya. misalnya begini, ada burung yang sangat bergantung akan keberadaan hutan lha mau lihat statusnya gimana ya harus lihat hutannya seberapa habis hutan tersebut.”
tidak main-main memang, untuk menyelesaikan buku referensi tersebut ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun. “ya begitulah mas tujuh tahun menghamba kepada data. lha wong maunya ndak boleh ada yang ketinggalan datanya, ia menjelaskan.
karena itu ia harus rela sering meninggalkan keluarga tercintanya. isteri dan dua anaknya, ghilman dan adry. pernah ia selama setahun tak pernah bertemu sama sekali ketika berada di inggris. lalu saat berada di hutan terus kangen sama keluarga gimana? “ya ndlongop, jawabnya sambil tergelak.
hidup nomaden dari satu kota ke kota berikutnya telah dilakukan sejak kecil, mengikuti orang tuanya yang pegawai pertamina. mengaku tak nyaman selalu berpindah karena merasa tak mempunyai teman dekat.
namun karena itulah dia sampai sekarang menguasai banyak bahasa : jawa, sunda, palembang, dayak, banjar, tagalog dan tentu saja inggris. dari beberapa negara yang pernah ia datangi, yang paling berkesan menurutnya adalah timor leste.
“saya suka alam dan orangnya ramah, terbuka dan jujur. tapi jangan dibohongi. bisa ditebas kita. kalo negara-negara eropa ndak begitu menarik buat saya mungkin karena "sesuai harapan" , terangnya.
penyuka buku natural history dan traveling ini saat ini bekerja di sebuah ngo internasional yang dikontrak oleh the nature conservancy (tnc). dan berkantor di dkp, departemen kalautan itu.
terlibat dengan dunia perburungan sejak jaman kuliah. begini ia memulai ceritanya, “waktu itu tak ada yang belajar tentang burung. "saya kan sukanya yang ndak ada ndak ada gitu. terus minta ke jurusan untuk diadakan. dikasih, tapi dosennya harus cari sendiri”.
mahasiswa yang masuk jurusan itu hanya sembilan orang. ia melanjutkan, “ndak ada buku panduan lapangan untuk identifikasi burung yang dijual di indonesia. jadi kami urunan buat beli 1."
“kami sempat dikatai gendheng kurang kerjaan. namun terasanya baru pada tahun-tahun akhir kuliah karena kami lantas diijon. belakangan banyak kantor penelitian, ngo, internasional yang mau buka kantor di indonesia. kami diijon sama mereka. kuliah dibayari, tapi kalu sudah lulus kerja sama mereka”.
"di perguruan tinggi sekarang ini, seperti di jurusan biologi atau fakultas kehutanan itu, kalo mau penelitian malah maunya yang "maju". penelitian genetik misalnya. padahal bukan itu yang sekarang diperlukan. kita perlunya "hanya", kita ini punya apa, dan ada di mana. itu saja. berikutnya baru, berapa banyak."
andai ingin bertanya dunia perburungan, silakan menyampaikan kepadanya. dia sangat memahami bermacam jenis burung, perilaku, habitat dan berapa jumlanya yang masih tersisa.
"sampe sekarang yang ketahuan "baru" dua jenis burung yang punah. kuau jawa dan trulek jawa. kemungkinan besar terus bertambah. kemarin sempat 1 tahun lebih mencari-cari trulek jawa di jawa timur, semua daerah yang ada catatan lamanya dikunjungi . habis sudah."
ia begitu mengkhawatirkan kepunahan spesies makhluk hidup. begini katanya, "kalo burung saja bisa amblas, apalagi makhluk-makhluk yang lebih kecil bisa jadi telah banyak yang punah. kita praktis ndak tau apa-apa soal kodok, jamur, serangga, ikan dan yang ndak populer lainnya danau di indonesia karena tak ada datanya."
penyuka makanan rawon , gulai otak, sate dan buntil ini ngeblog sejak 2006. mengenal komunitas bunderan hotel indonesia sejak adanya malam muktamar blogger yang berlanjut ke pesta blogger 2007. menurutnya, komunitas ini sangat menarik. "buat saya temen-teman itu jujur".
perbincangan ini dilakukan di sela-sela kesibukannya membuat laporan mengenai UN Climate Change Conference 2007 yang baru saja selesai. dan kini sedang bersiap mengakhiri tahun ini dengan melakukan perjalanan yang akan dimulai pada hari jumat mendatang.
oh ya, lupa. mau mampir ke jepara gak mas?
link terkait:
http://fanabis.blogsome.com/bhi/

eitsaaah…wakakakak
Mas KW, manukmu mengko ditulup om rudy loh
Comment by balibul — December 18, 2007 @ 5:54 am
lho kok ketiga? emang istri kedua udah ada?
Comment by de — December 18, 2007 @ 6:32 am
aku dari dulu mau pinjem itu ensiklopedi burungnya, tapi kok takut nanti hilang…repot gantiinnya
Comment by Hedi — December 18, 2007 @ 7:28 am
pakdhe mbilung memang top markotop!
Comment by evi — December 18, 2007 @ 7:32 am
lho jelas mampir jepara itu, pakdhe aku padamuuuu
Comment by aprikot — December 18, 2007 @ 7:42 am
sek sek lho kok tahu mas kw, klo pakdhe mau mampir jepara????
Comment by aprikot — December 18, 2007 @ 7:43 am
wah saya emang kurang gaul
Comment by iway — December 18, 2007 @ 7:54 am
sayangnya ornitolog bukan spesies kulit dan kelam*n
hihihii
Comment by Luthfi — December 18, 2007 @ 7:55 am
halah, spesialis … koq salah nulis dadi spesies
Comment by Luthfi — December 18, 2007 @ 7:56 am
massssssss…..
halah, kok malah kayak film jadul, wekekeke….
Comment by venus — December 18, 2007 @ 8:04 am
aku baru ketemu sekali, yha jumat malam kmrn itu
menyenangkan, cuman yho jik rodo sungkan2 gitu
Comment by pinkina — December 18, 2007 @ 8:24 am
aku baru sekali ketemu pak dhe mbilung, yha jumat malam kmrn itu
menyenangkan tp aku rodok sungkan2 gitu (*mugo2 komenku isok)
Comment by pinkina — December 18, 2007 @ 8:40 am
semua manuk diteliti..kecuali manuk-e dewe..padahal manuk-e om mbilung ki yo terancam
lapukpunahComment by pitik — December 18, 2007 @ 9:06 am
manuke mas kw wis terdaftar di “threatened birds of asia” apa blm?
Comment by mikow — December 18, 2007 @ 9:50 am
....
lanjut mas kw …
Comment by bahtiar — December 18, 2007 @ 11:02 am
lha saya baru tahu kalau beliau pakar ’ burung ‘
Comment by iman brotoseno — December 18, 2007 @ 11:06 am
wekkzz…rudyanto tho..???
terkagum-kagum
pak de..kpn ke jogja lagee..???
Comment by escoret — December 18, 2007 @ 11:53 am
lha nengdi2 nggawa manuk ngunu loh…. dadak neliti manuk liyo.. ah kurang gawean.. dikeplaki mbilung
Comment by Anang — December 18, 2007 @ 12:08 pm
cah cah bhi ki manuk terancam punah kabeh kok. ra ono sing payu.
Comment by Mbilung — December 18, 2007 @ 2:08 pm
hebat yak…
Comment by susan — December 18, 2007 @ 5:33 pm
oalah iki pakdhe mbilung tho? kapan mampir semarang pakdhe jadi kita bisa kopdar gitu? mas KW juga?yuks..yuks..
Comment by stey — December 18, 2007 @ 5:37 pm
ngesir rambute sing kelabu, langka je
Comment by kenny — December 18, 2007 @ 7:18 pm
loh bisa bahasa dayak juga toh??kagummm banyak banget bisa bahasanya…
Comment by ekowanz — December 18, 2007 @ 11:11 pm
sir mbilung ternyata nggak abis2 kangennya sama dili ya.
Comment by fitri mohan — December 19, 2007 @ 3:48 am
buntil tak pikir kutil..xixi
Comment by mei — December 19, 2007 @ 7:30 am
weleh, itu to yg namamnya pakde sir mbilung
Comment by detnot — December 19, 2007 @ 9:23 am
owalah pak de.. jade penasaran pengen nyobain buntil bikinan budhe jenny..wkakakak
Comment by omith — December 19, 2007 @ 9:55 am
wahahahaha… no komen buat manusia yang satu ini.yang jelas,beliau itu super-duper usil,dan usil nya itu kayanya dah kodrat dari lahir.hahahhaa..
Comment by yudhi — December 20, 2007 @ 2:01 pm
ah, iyah.. ternyata beliau memang pribadi yang hangat.. pernah ketemu sekali doang
Comment by dewi — December 21, 2007 @ 1:56 pm
o pakar burung? Salam kenal mas mbilung eh Rudyanto
Comment by Aris — December 21, 2007 @ 4:37 pm
ini seperti wawancara dengan tokoh perburungan.. lengkap banget mas.. saya jadi tahu ternyata ada juga profesi yg sangat menjanjikan sebagai peneliti burung
Comment by Totoks — December 22, 2007 @ 10:11 pm