di perjalanan menuju rumah sakit untuk mengucapkan selamat kepada teman sebagai bapak baru. berenam di dalam mobil. riuh.

"kemarin pulang cepat, aku di telp dari sekolahan, anakku sakit, badannya panas, muntah-muntah. kasian dia. "

"kalau panasnya turun, itu harus lebih diwaspadai lo. bisa jadi nanti panas lagi, itu lebih parah. bisa pingsan, jawab yang lain."

"iya waktu itu aku juga pernah ngalami. perutnya kembung, sampai buncit. terus aku olesin minyak kayu putih. tak berapa lama dia pengen ke toilet. dan sembuh. lega rasanya.

tak mau kalah bercerita, ayah di sampingku juga bersemangat, anaknya begitu girang saat mandi bola di sebuah taman anak.

salah satu dari mereka, memasang foto anaknya yang tersenyum berpigura di meja kerjanya. dua buah. yang lain memasang di avatar. bahkan di wallpapers.

rupanya tak harus menjadi bapak untuk merasakan betapa bapakku dulu juga sangat menyayangiku. meskipun pada kesehariannya sikapnya dingin. seolah tak acuh. diam-diam beliau memperhatikan. mungkin  ini yang menyebabkanku aku agak-agak sungkan berbicara dan bersikap bebas. begitu juga dia.

aku hanya diam saja. aku tak punya database secuil pun. hasilnya kosong saat aku mencobba meretrieve memory otakku.  mungkin karena mereka, anak-anak bayi itu menurutku tak menarik. berisik suara tangisannya, bau ompol yang telat mengganti pempresnya. atau hidungnya yang tertutup cairan ketika pilek.

siang itu aku seperti menumpang sebuah taksi pada tengah malam, setelah siangnya membaca koran tentang perampokan. :)